Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Surplus Neraca Dagang Susut, Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I Diproyeksi Melebar

Surplus neraca perdagangan pada Januari 2024 tercatat sebesar US$2,02 miliar. Dengan demikian terjadi penyusutan sebesar US$1,13 miliar secara bulanan.
Ilustrasi kapal kontainer/ Bloomberg
Ilustrasi kapal kontainer/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2024 tercatat mengalami penyusutan menjadi US$870 juta dan berada di bawah proyeksi konsensus ekonom yang secara rata-rata sebesar US$2,56 miliar.

Untuk diketahui, surplus neraca perdagangan pada Januari 2024 tercatat sebesar US$2,02 miliar. Dengan demikian terjadi penyusutan sebesar US$1,13 miliar secara bulanan.

Secara kumulatif pun, surplus perdagangan pada Januari-Februari 2024 tercatat hanya sebesar US$2,87 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama pada 2023 sebesar US$9,28 miliar.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyampaikan bahwa penyusutan terjadi terutama karena kontraksi bulanan ekspor lebih besar dibandingkan dengan impor. 

Ekspor Indonesia mengalami penurunan sebesar 5,79% secara bulanan atau 9,45% secara tahunan, yang utamanya disebabkan oleh turunnya permintaan dari China karena libur nasional Imlek.

“Secara khusus, ekspor ke China mengalami kontraksi sebesar US$489,5 juta, menandai penurunan yang paling signifikan di antara negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia,” katanya kepada Bisnis, Minggu (17/3/2024).

Dia menjelaskan, libur panjang tersebut berdampak pada aktivitas manufaktur, yang menyebabkan penurunan permintaan produk besi dan baja. Selain itu, ekspor CPO juga terkontraksi yang disebabkan oleh penurunan permintaan global karena penurunan harga minyak nabati.

Di sisi lain, impor Indonesia pada Februari 2024 mengalami pertumbuhan yang signifikan sebesar 15,48% secara tahunan, yang didorong oleh peningkatan impor migas dan barang konsumsi menjelang periode Ramadan dan Idulfitri.

Dengan perkembangan tersebut, Josua memperkirakan bahwa tren penurunan surplus perdagangan akan terus berlanjut ke depan. Hal ini berpotensi meningkatkan kemungkinan pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). 

“Kami memperkirakan defisit transaksi berjalan pada kuartal I/2024 akan melebar menjadi defisit 0,38% dari PDB,” katanya.

Untuk diketahui, transaksi berjalan Indonesia mencatatkan defisit sebesar US$1,6 miliar atau 0,1% dari PDB sepanjang 2023.

Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang 2024 pun berpotensi mencatatkan defisit sebesar 0,70% dari PDB. 

Pelebaran dari defisit transaksi berjalan ini, imbuhnya, dapat memberikan tekanan pada stabilitas rupiah, terutama pada semester pertama 2024. 

Namun demikian, dampak pelebaran defisit transaksi berjalan diperkirakan akan berkurang pada semester II/2024 karena adanya potensi penurunan suku bunga kebijakan global. 

“Seiring dengan berkurangnya kehati-hatian investor terhadap pemilihan umum 2024 dan kemungkinan pemangkasan suku bunga kebijakan global di semester II/2024, kami mendukung peningkatan sentimen risk-on di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang mengarah pada peningkatan arus masuk modal baik dalam investasi langsung maupun portofolio,” jelasnya.

Oleh karena itu, Josua memperkirakan pada semester II/2024 akan terjadi tren apresiasi rupiah, dari Rp15.397 per dolar AS pada akhir 2023 menjadi sekitar Rp15.000 hingga 15.300 per dolar AS pada akhir 2024.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper