Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Tambang Andalkan Satu Negara Tujuan, Bom Waktu Neraca Dagang

Diversifikasi komoditas ekspor dan negara tujuan menjadi penting bagi neraca dagang ke depan seiring peningkatan nilai impor.
Truk dan kontainer berderet di Terminal Kontainer IPC, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada Jumat (10/12/2021). - Bloomberg/Dimas Ardian
Truk dan kontainer berderet di Terminal Kontainer IPC, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta pada Jumat (10/12/2021). - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, BANDUNG — Diversifikasi dari hasil tambang dinilai penting untuk bisa mendorong surplus neraca dagang Indonesia dengan peningkatan dari sisi ekspor.

Ekonom CORE Indonesia Hendri Saparini mengingatkan agar jangan sampai ekspor mengalami perlambatan, lantaran kebutuhan impor akan mengalami peningkatan untuk pemenuhan domestik.

Meningkatnya nilai impor yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan ekspor lantas akan mengganggu neraca dagang Indonesia ke depannya. Perluasan negara tujuan ekspor juga perlu dilakukan agar tidak bergantung hanya pada satu destinasi saja.

“Ekspor semakin bergantung pada produk-produk turunan tambang dan yang tergantung pada satu negara saja. Hal ini kalau diversifikasinya tidak dikembangkan, maka menjadi masalah untuk Indonesia,” katanya di Bandung dikutip Jumat (1/3/2024).

Lebih lanjut, dia mengatakan hilirisasi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah telah berkontribusi hingga 30% dari total investasi di Indonesia.

Bahkan, data dari berbagai sumber yang diolah oleh tim riset CORE Indonesia menunjukan investasi untuk sektor tersier telah melampaui Rp350 triliun pada kuartal III/2023. Disusul oleh sektor sekunder dengan Rp200 triliun, dan primer Rp50 triliun.

Bila melihat investasi terkait hilirisasi pada kuartal III/2023, sebanyak 17,3% berasal dari mineral, 4,7% kehutanan, 4,0% minyak dan gas, 3,7% pertanian, dan 1% dari ekosistem kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB).

Pemerintah juga sedang berupaya untuk menggencarkan hilirisasi dari hasil tambang nikel untuk diolah menjadi baterai mobil listrik. Namun, masih banyak pabrikan yang masih menggunakan baterai jenis lithium ferro-phosphate (LFP).

Dia menilai pemerintah seharusnya menerbitkan kebijakan yang sifatnya tidak hanya ad hoc, sehingga hilirisasi dari tambang nikel bisa terealisasi dan mengalami keberlanjutan. Kajian lebih lanjut perlu dilakukan untuk bisa memberikan rasa percaya diri terhadap para investor.

Para investor disebut akan melihat kebutuhan dari nikel hingga tahapan produksi untuk menanamkan modalnya di Tanah Air.

“Tanpa kajian itu saya rasa melanjutkan hilirisasi ada manfaat meningkatkan nilai tambah, tetapi tidak menguatkan secara maksimal industri yang akan dibangun di Indonesia,” katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper