Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penyerapan Tenaga Kerja Tak Seindah Realisasi Investasi, Ini Sebabnya

Realisasi investasi pada 2023 melampaui target yang ditetapkan pemerintah. Mirisnya, jumlah tenaga kerja yang terserap tidak terlalu banyak.
Ilustrasi Tenaga kerja indonesia yang bekerja di Malaysia tiba di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali./JIBI
Ilustrasi Tenaga kerja indonesia yang bekerja di Malaysia tiba di Bandara Adi Soemarmo, Boyolali./JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi mencapai Rp1.418,9 triliun atau melampaui target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebesar Rp1.400 triliun pada 2023. Kendati begitu, realisasi investasi tidak berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja.

Masih merujuk pada data Kementerian Investasi, dengan realisasi tersebut, tenaga kerja yang terserap hanya 1,82 juta sepanjang 2023.  

“Problem utama, ketenagakerjaan kita itu tidak memenuhi kriteria yang diperlukan oleh investor,” kata Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah kepada Bisnis, Rabu (24/1/2024).

Problem lainnya, yaitu regulasi pemerintah yang kurang berpihak kepada buruh dan tidak adaptif. Dia mengatakan, pemerintah dalam menyusun regulasi kerap memprioritaskan investasi yang masuk dibandingkan pekerjanya. Pemerintah juga masih memegang paradigma bahwa investor yang masuk ke Indonesia otomatis akan menyerap tenaga kerja.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah daerah seolah cuci tangan terhadap kegiatan investasi di daerahnya lantaran dinilai tidak menguntungkan bagi kepala daerah, secara politik ekonomi.

“Jadi dia tidak ada istilahnya membenahi profesionalitas human resources, yang terjadi adalah mereka kesempatan untuk gimmick politik. Itu yang menjadi problemnya di sana,” ungkapnya. 

Oleh karena itu, dia mendorong pemerintah untuk mampu menyusun kebijakan yang adaptif, serta mampu diimplementasikan dan dievaluasi dengan baik. 

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengakui, penyerapan tenaga kerja tak berbanding lurus dengan realisasi investasi. Dia mengatakan, kondisi tersebut terjadi karena investasi yang masuk ke Indonesia di dominasi oleh padat teknologi dan padat modal.

Di sisi lain, kualitas berpikir para pencari kerja perlu ditingkatkan. Pasalnya, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan industri pada karya untuk menjadi negara maju. 

“Padat karya itu mohon maaf gajinya ya terukur tapi kalau bekerja di industri pasti penciptaan lapangan pekerjaan dengan upah yang cukup layak dan itu adalah cara kita untuk dorong GDP kita di atas bisa mencapai di atas US$10.000 [per kapita],” jelas Bahlil.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ni Luh Anggela
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper