Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pengusaha Optimistis Sektor Penerbangan Makin Bergairah pada 2024

Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyebut tren pertumbuhan penumpang pesawat masih akan berlanjut pada 2024.
Penumpang pesawat berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (22/12/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Penumpang pesawat berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (22/12/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyebut tren pertumbuhan penumpang pesawat akan berlanjut pada 2024 seiring dengan pemulihan mobilitas masyarakat serta kelanjutan pertumbuhan ekonomi.

Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengatakan, pertumbuhan jumlah penumpang pesawat pada 2024 akan melanjutkan tren pada 2023 lalu. Hal ini salah satunya didukung oleh kelanjutan pertumbuhan ekonomi, baik secara nasional maupun global.

Selain itu, mobilitas masyarakat yang sempat terhambat pada periode pandemi 2020-2021 lalu juga akan menunjukkan tren pemulihan yang semakin positif. Mobilitas juga didukung oleh tingginya minat warga untuk bepergian atau travelling, terutama untuk masyarakat dengan kemampuan ekonomi menengah ke atas.

“Kemungkinan akan ada pertumbuhan, tetapi tidak akan sedrastis tren pertumbuhan pada 2023 lalu. Karena itu akan bergantung ke supply dan demand,” kata Bayu saat dihubungi, Jumat (5/1/2024).

Berkaca dari tren tersebut, Bayu memprediksi jumlah penumpang pesawat domestik di Indonesia dapat kembali ke level sebelum pandemi paling cepat pada akhir 2024 mendatang. Sementara itu, pemulihan ini diperkirakan paling telat terjadi pada awal 2025 mendatang.

Sementara itu, dia menyebut tren pemulihan jumlah penumpang internasional akan memakan waktu yang lebih lama. INACA memproyeksikan pemulihan penumpang ke level pra pandemi baru akan terjadi pada akhir 2025.

“Untuk penerbangan internasional kemungkinan baru 2025 akhir karena penumpang pasti perlu prepare lebih lama seperti untuk mengurus visa dan lainnya,” tambahnya.

Di sisi lain, salah satu tantangan yang berpotensi menghambat pertumbuhan jumlah penumpang adalah ketersediaan armada pesawat di Indonesia. Bayu mengatakan, jumlah armada pesawat Indonesia pada 2024 kemungkinan masih sulit kembali ke level sebelum pandemi di mana Indonesia memiliki sekitar 700 armada pesawat.

Bayu menuturkan, minimnya jumlah armada pesawat salah satunya disebabkan oleh kelangkaan suku cadang (spare part) pesawat. Hal ini terjadi menyusul terganggunya rantai pasok untuk suku cadang tersebut akibat konflik Rusia-Ukraina.

Selain itu, dia menambahkan proses reaktivasi pesawat baik oleh maskapai maupun perusahaan penyedia pesawat atau lessor juga memakan waktu yang lama. Bayu menuturkan, hal ini disebabkan oleh kapasitas fasilitas bengkel pesawat atau maintenance, repair & overhaul (MRO) yang tidak mengalami kenaikan selama pandemi.

“Untuk reaktivasi armada itu butuh waktu lama, karena kapasitas MRO nya tidak naik signifikan. Jumlah armada ini pulih mungkin baru di 2024-2025,” kata Bayu.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper