Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Waduh! 445,186 Entitas di AS Ajukan Pailit pada 2023, Melonjak 18%

Pengajuan kepailitan di AS melonjak pada 2023 dan diperkirakan masih akan meningkat pada tahun ini.
Gedung-gedung di Manhattan terlihat dari puncak observatorium One Vanderbilt di Manhattan, New York City, AS, 14 April 2023./Reuters
Gedung-gedung di Manhattan terlihat dari puncak observatorium One Vanderbilt di Manhattan, New York City, AS, 14 April 2023./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pengajuan kepailitan di Amerika Serikat melonjak 18% pada 2023 seiring dengan suku bunga yang lebih tinggi, standar pinjaman yang lebih ketat, dan berkurangnya dukungan dana di era pandemi. Jumlah perusahaan yang pailit diperkirakan akan terus meningkat pada tahun 2024

Mengutip Reuters, Kamis (4/1/2024) data dari penyedia data kepailitan Epiq AACER menunjukkan total pengajuan kebangkrutan, baik mencakup secara komersial dan pribadi, meningkat 445,186 tahun lalu dari 378,390 pada 2022. 

Namun, walaupun data yang dirilis pada Rabu (3/1) tersebut menunjukan peningkatan,  volume kasus kebangkrutan masih jauh dibawah level ketika terjadinya pandemi Covid-19. 

Kemudian, pengajuan reorganisasi bisnis Bab 11 Komersial melonjak 72% menjadi 6,569 dari 3,819 pada tahun sebelumnya. Pengajuan konsumen naik 18% menjadi 419,55 dari 356,911 pada 2022. 

Lalu, pada Desember 2023, total pengajuan turun menjadi 34,447 dari 37,860 pada November 2023, meskipun jumlah tersebut naik 16% dari tahun sebelumnya. 

Jumlah kasus kebangkrutan diperkirakan akan terus meningkat pada 2024 walaupun masih ada ‘jarak’ untuk melampaui angka 757.816 kasus kebangkrutan pada 2019, yakni setahun sebelum pandemi. 

"Seperti yang telah diantisipasi, kami melihat pengajuan baru pada tahun 2023 meningkatkan momentum selama tahun 2022 dengan sejumlah besar pengajuan komersial yang memimpin peningkatan yang diharapkan dan normalisasi kembali ke volume kebangkrutan sebelum pandemi," jelas Wakil presiden Epiq AACER, Michael Hunter.

Lanjutnya, mereka memperkirakan adanya peningkatan jumlah konsumen dan pengajuan komersial yang mencari perlindungan kepailitan yang akan terus berlanjut pada 2024. 

Adapun, argumen tersebut muncul dengan menimbang berkurangnya stimulus pandemi, meningkatnya biaya dana, suku bunga yang lebih tinggi, tunggakan yang meningkat dan tingkat utang rumah tangga yang hampir mencapai tingkat sejarah. 

Berdasarkan data dari Federal Reserve (The Fed) New York, utang rumah tangga mencapai rekor tertinggi sebesar US$17,3 triliun pada akhir kuartal III/2023. Tunggakan juga sedikit meningkat namun tetap berada di bawah tingkat sebelum pandemi.

Selama dua tahun terakhir, Kondisi keuangan dunia usaha dan rumah tangga telah mengalami pengetatan signifikan karena naiknya suku bunga The Fed yang agresif. Misalnya, suku bunga pinjaman hipotek pada paruh kedua 2023 melonjak ke level tertinggi sejak awal abad ini.

Namun, biaya pinjaman dan kondisi keuangan secara keseluruhan telah mereda selama kuartal IV/2023, setelah The Fed mengisyaratkan akan segera mengakhiri siklus kenaikan suku bunganya. Pada bulan lalu, pejabat The Fed mengindikasikan bahwa mereka memperkirakan akan menurunkan suku bunganya pada tahun ini. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper