Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Distribusi LPG Subsidi hingga Prospek Kartu Kredit

Berita tentang target pengembangan transformasi distribusi LPG subsidi menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id hari ini, Kamis (28/12/2023).
Top 5 News. Sumber: Canva.
Top 5 News. Sumber: Canva.

Bisnis.com, JAKARTA — Keinginan pemerintah untuk melakukan pembenahan dalam pendistribusian gas minyak cair (liquefied petroleum gas/LPG) subsidi ukuran 3 Kg kian kuat guna mengantisipasi terjadinya lonjakan konsumsi yang pada akhirnya berdampak terhadap subsidi bahan bakar tersebut.

Berita tentang target pengembangan transformasi distribusi LPG subsidi menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id hari ini, Kamis (28/12/2023). Selain berita tersebut, sejumlah berita menarik lainnya turut tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.
Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id hari ini:

1. Hitung Mundur Transformasi Distribusi LPG Subsidi

Rencananya, mulai 1 Januari 2024 nanti pemerintah akan mewajibkan pembelian LPG 3 kg hanya untuk masyarakat yang telah terdata di sistem PT Pertamina (Persero). Artinya, bagi masyarakat yang belum terdata dapat segera mendaftar atau memeriksa data diri di subpenyalur atau pangkalan resmi Pertamina paling lama 31 Desember 2023. 

Langkah itu merupakan salah satu upaya pemerintah dalam melakukan transformasi pendistribusian LPG tabung 3 Kg sehingga menjadi lebih tepat sasaran. Dengan demikian, besaran subsidi yang terus meningkat diharapkan dapat dinikmati sepenuhnya oleh kelompok masyarakat tidak mampu atau tepat sasaran.

Selama ini, pemerintah setidaknya harus menyiapkan dana sekitar Rp60—Rp80 triliun dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk menyubsidi kebutuhan LPG di dalam negeri yang terus melonjak setiap tahunnya.

Di sisi lain, dengan kemampuan produksi LPG di dalam negeri yang ditargetkan 1,97 juta ton per tahun hingga 2024, sedangkan kebutuhan domestik terus meningkat di atas 8,5 juta ton, tentu saja berdampak pada lonjakan impor bahan bakar tersebut.

2. Tuah The Fed Buat Pasar Obligasi 2024 Bergairah

Pasar obligasi diprediksi akan melanjutkan momentum positif pada 2024, sejalan dengan ekspektasi penurunan suku bunga acuan dari Bank Sentral AS Federal Reserve (The Fed).

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat total emisi obligasi korporasi dan sukuk yang tercatat sepanjang tahun 2023 sebanyak 107 emisi dari 57 emiten senilai Rp117,80 triliun.

Di sisi lain, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) juga meraih penggalangan dana tebal dari hasil penerbitan Surat Berharga Negara atau SBN Ritel sepanjang 2023 sebesar Rp147,42 triliun. Ketujuh seri SBN ritel yang ditawarkan pemerintah yakni SBR012, SR018, ST010, ORI023, SR019, ORI024, dan ST011.

Head of Investment Specialist Sinarmas AM Domingus Sinarta Ginting mengatakan, tahun depan, baik obligasi korporasi dan obligasi pemerintah akan saling melengkapi ditengah pasar yang masih relatif volatil.

Menurutnya, obligasi korporasi bisa menjadi pilihan di semester I/2024, saat pasar masih cenderung berfluktuasi serta wait and see terkait data–data perekonomian di AS dan kepastian waktu dari pemotongan suku bunga The Fed. Pasalnya, harga obligasi korporasi cenderung stabil di tengah pasar yang berfluktuasi.

"Sementara itu obligasi negara bisa menjadi pilihan di paruh kedua 2024, saat The Fed sudah mulai menurunkan suku bunga. Karena SBN cenderung lebih diuntungkan saat suku bunga turun karena memiliki durasi yang lebih panjang," ujar Domingus kepada Bisnis dikutip Selasa, (26/12/2023).

Menurutnya, di tengah tren penurunan suku bunga, maka emiten di sektor yang memiliki leverage dan kebutuhan refinancing jangka pendek yang tinggi akan cenderung diuntungkan di antaranya adalah konstruksi, telekomunikasi, pulp & paper, dan properti.

Dari sisi obligasi negara, menurutnya prospek penerbitan SBN ritel pada 2024 diprediksi sekitar Rp157,06 triliun atau naik 6,5% secara year-on-year (YoY) dibandingkan realisasi penerbitan SBN ritel sepanjang 2023 sebesar Rp147,42 triliun.

3. Harga Minyak Tergelincir Gegara Konflik di Laut Merah

Harga minyak tergelincir sebesar US$1 per barel pada Rabu (27/12/2023) akibat situasi di rute perdagangan tersibuk di Laut Merah yang belum aman. 

Minyak mentah berjangka Brent turun 94 sen atau 1,16% menjadi US$80,13 per barel pada 13.23 GMT. Sementara itu, West Texas Intermediate kehilangan US$1,05 atau 1,39% menjadi US$74,52 per barel, seperti dilaporkan Investing.com.

Menurut analis di S&P Global Market Intelligence, rantai pasokan energi akan kembali menghadapi pergolakan karena serangan di Laut Merah menimbulkan dampak lanjutan.

“Rute alternatif menjadi sulit, baik secara praktis maupun ekonomis,” jelasnya dikutip Bisnis.com yang melansir Bloomberg. 

Pengiriman harus dilakukan dengan transit melalui Tanjung Harapan yang dapat menambah waktu perjalanan, setidaknya 10 hari dan Terusan Panama yang menghadapi kekurangan air. 

Sebelumnya, sejumlah perusahaan pelayaran internasional terbesar telah menghentikan rute tersebut setelah terjadi serangan dari Houthi Yaman terhadap kapal-kapal yang sedang menuju Israel. 

Perusahaan pelayaran terbesar kelima Hapag-Lloyd asal Jerman mengatakan perjalanan melalui Laut Merah masih terlalu berbahaya dan mereka akan terus mengubah rute kapal-kapalnya melalui Tanjung Harapan. 

Pengumuman ini muncul hanya sehari setelah Mediterranean Shipping Company (MSC) mengatakan salah satu kapal kontainernya diserang saat transit di Laut Merah bagian selatan dalam perjalanan ke Pakistan dari Arab Saudi. MSC melaporkan semua kru selamat. 

4. IPO 2023: yang Panen Besar hingga yang Untung dan Buntung 

Tahun 2023 mengukir sejarah baru di pasar modal Indonesia, sebab jumlah emiten pendatang baru tahun ini memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Namun, tidak semua emiten-emiten anyar ini bernasib sama usai melantai di Bursa.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga hari ini, Rabu (27/12/2023), jumlah emiten baru di pasar modal telah mencapai 79 emiten. Emiten terakhir yang tercatat adalah PT Maja Agung Latexindo Tbk. (SURI) yakni pada 7 Desember 2023.

Rekor sebelumnya terjadi pada tahun 1990, yakni sebanyak 66 emiten. Dengan kata lain, setelah lebih dari 3 dekade, rekor tersebut baru berhasil dilampaui tahun ini.

Nilai penggalangan dana pun tak kalah tingginya, yakni Rp54,14 triliun. Jumlah itu melesat signifikan dibandingkan tahun 2022 yang sebanyak 59 emiten dengan dana yang dihimpun Rp33,06 triliun.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, rata-rata emiten baru di tahun ini melakukan listing di rentang harga Rp100-Rp200 per saham. Tercatat, hanya 4 dari 79 perusahaan yang mencatatkan sahamnya dengan harga penawaran di atas Rp1.000.

Keempat emiten tersebut yakni PT Hillcon Tbk. (HILL), PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), dan PT Mastersystm Infotama Tbk. (MSTI).

5. Tantangan Paylater pada Prospek Kartu Kredit 2024

Bisnis kartu kredit industri perbankan menunjukkan tren pemulihan sejak pembatasan mobilitas berakhir seiring usainya status pandemi Covid-19. Namun, tren tersebut terancam melambat pada 2024 mendatang, apalagi dengan makin populernya layanan paylater.

Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Pasar Keuangan (SPIP) Bank Indonesia per Oktober 2023 mencatat jumlah kartu kredit yang terbitkan mencapai 18 juta keping. Jumlah ini kian menanjak dibanding 2022 lalu, yang hanya 17,2 juta kartu.

Meskipun jumlah kartu kredit yang terbit makin meningkat, nyatanya hal ini tidak secara signifikan memengaruhi volume transaksi kartu kredit.

Tercatat, pada Oktober 2023 volume transaksi tercatat sebesar 33,19 juta transaksi, turun secara bulanan dibanding September 2023 yang menyentuh 33,37 juta transaksi. Bahkan, tren penyusutan ini telah terlihat dua bulan sebelumnya, yakni Juli dan Agustus yang masing-masing sempat membukukan 34,53 juta dan 33,88 juta transaksi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Yanita Petriella
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper