Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Investasi Blok Masela Rp535,96 Triliun, Pertamina Matangkan Keputusan Akhir

Pertamina sedang mematangkan keputusan akhir investasi Blok Masela yang diperkirakan satu hingga dua tahun ke depan.
Gedung Pertamina./Istimewa
Gedung Pertamina./Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) memperkirakan keputusan akhir investasi atau final investment decision (FID) proyek LNG Abadi Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku dapat diputuskan satu hingga dua tahun ke depan.

VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan perseroan saat ini tengah berdiskusi dengan operator blok, Inpex Masela Ltd terkait dengan tindaklanjut rencana pengembangan atau plan of development (PoD) I lapangan yang telah disetujui Menteri ESDM Arifin Tasrif pada 28 November 2023.

“Segera setelah pematangan tersebut selesai dilakukan, maka FID akan diajukan estimasinya satu hingga dua tahun ke depan,” kata Fadjar saat dikonfirmasi, dikutip Rabu (6/12/2023).

Sementara itu, Fadjar mengatakan, Pertamina bakal berpartisipasi ihwal investasi yang disetor sesuai dengan persentase hak partisipasi atau participating interest (PI) yang saat ini dipegang sebesar 20%.

Seperti diketahui, estimasi biaya investasi dan operasi pengembangan proyek LNG Abadi Blok Masela saat ini menyentuh di angka US$34,74 miliar setara dengan Rp535,96 triliun (asumsi kurs Rp15.428 per dolar AS).

Perkiraan biaya untuk rencana pengembangan itu meliputi biaya investasi di luar sunk cost sebesar US$20,94 miliar (termasuk di dalamnya investasi CCS sebesar US$1,08 miliar), biaya operasi sebesar US$12,97 miliar dan biaya Abandonment and Site Restoration (ASR) sebesar US$830 juta.

Revisi rencana pengembangan itu telah memasukkan investasi pemasangan fasilitas penangkapan karbon atau carbon capture storage (CCS), sementara target operasi proyek dipatok pada 2030 atau 7 tahun mendatang.

“Inpex dapat melaksanakan kegiatan pengembangan Lapangan Abadi sesuai PoD,” kata Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji lewat siaran pers dikutip Senin (4/12/2023).

Spesifiknya, Inpex bakal melaksanakan desain dan rekayasa atau front-end engineering and design (FEED) untuk OLNG, FPSO, GEP dan SURF pada 2024, site preparation pada 2025 dan drilling preparation pada 2026.

Seperti diketahui, kontrak kerja sama Blok Masela ditandatangani pada 16 November 1998 untuk jangka waktu 30 tahun dan telah mendapatkan kompensasi waktu 7 tahun serta perpanjangan 20 tahun belakangan. Dengan demikian, kontrak ladang gas Abadi itu bakal berakhir pada 15 November 2055. 

Pemegang participating interest Blok Masela saat ini adalah Inpex Masela Ltd (65%) sekaligus sebagai operator, PT Pertamina Hulu Energi Masela (20%), dan Petronas Masela Sdn. Bhd (15%).

Blok Masela merupakan salah satu prospek ladang migas terbesar di Indonesia. Produksinya diperkirakan dapat mencapai 1.600 juta kaki kubik per hari (MMscfd) gas atau setara 9,5 juta mtpa dan gas pipa 150 MMscfd, serta 35.000 barel kondensat per hari (bcpd).

Proyek yang semula diperkirakan menelan biaya investasi hingga US$19,8 miliar itu menjadi aset pengelolaan gas terbesar kedua dari Inpex, setelah Ichthys LNG Project di Australia.

Proyek Blok Abadi Masela itu bakal menutupi lebih dari 10% kebutuhan impor LNG tahunan Jepang nantinya. Di sisi lain, proyek itu juga diharapkan dapat menjaga ketahanan pasokan energi di Indonesia, Jepang, dan beberapa negara Asia lainnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper