Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Masih Tertekan, Industri Tekstil Pilih Tahan Kenaikan UMP untuk Tahun Depan

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memilih untuk menahan kenaikan upah minimum provinsi pada tahun depan seiring dengan belum membaiknya kondisi.
Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Bisnis/Rachman
Sejumlah karyawan tengah memproduksi pakaian jadi di salah satu pabrik produsen dan eksportir garmen di Bandung, Jawa Barat, Selasa (25/1/2022). Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) semakin tertekan dengan penetapan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) 2024 yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 51/2023 tentang Pengupahan. 

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wiraswasta mengatakan kinerja industri yang masih terus terkontraksi hingga kini membuat kenaikan upah tidak dapat dilakukan. 

Redma menyebutkan bahwa berkenaan dengan upah di TPT, antara pengusaha dan karyawan telah memahami kondisi tersebut dan dampaknya terhadap pendapatan yang tersendat. 

"Upah naik berapapun sampai minggu ini karyawan yang dirumahkan masih di atas 100.000-an, belum termasuk yang di PHK, putus kontrak dan pengurangan jam kerja," kata Redma kepada Bisnis, Selasa (14/11/2023).

Sepanjang 2023, Redma menyampaikan bahwa kinerja industri TPT masih negatif hingga akhir kuartal keempat. Bahkan, untuk 2024 pun pihaknya belum melihat titik terang. 

Meski, pemerintah telah memberikan kebijakan untuk melindungi industri, seperti pembatasan impor, namun hal tersebut dinilai belum dapat berjalan optimal. 

"Kebijakan ini tidak fokus pada sumbernya di pelabuhan di mana Bea Cukai yang menjadi sumber masalah sama sekali tidak tersentuh," tuturnya. 

Di tengah tahun politik, dia meminta pemerintah untuk tidak menyelesaikan masalah perekonomian dengan pertimbangan kepentingan politik jangka pendek. 

"Bahkan seharusnya stabilitas ekonomi tetap diutamakan untuk menjaga stabilitas sosial," pungkasnya. 

Diberitakan sebelumnya, Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengungkap tahun-tahun berat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih akan berlanjut hingga akhir 2024. Kondisi ini mengingat permintaan ekspor yang melemah hingga banjir impor TPT di pasar domestik. 

Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengatakan pertumbuhan ekonomi global masih terkoreksi seiring kondisi geopolitik dan daya beli yang belum pulih. Dia pun memproyeksi pertumbuhan ekonomi baru akan terlihat pada awal 2025.  

"Tahun 2024 masih menjadi tahun yang berat bagi industri TPT Indonesia dan negara lainnya. Kelihatannya ekonomi global baru membaik di awal tahun 2025," kata Jemmy kepada Bisnis, (12/11/2023).  

Terlebih, saat ini berbagai negara tengah menerapkan trade barrier atau pembatasan arus perdagangan untuk menyelamatkan industri di negara masing-masing. Hal tersebut membuat negara yang lemah dalam menerapkan Trade Barrier menjadi sasaran empuk masuk nya product TPT impor. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper