Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IISIA Beberkan Sinyal Permintaan Baja Global Masuki Fase Pemulihan

The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) mencermati adanya sinyal peningkatan permintaan baja sepanjang paruh kedua 2023.
Pipa baja ERW Spindo telah digunakan di beberapa proyek jembatan, proyek konstruksi terutama untuk bangunan bentang lebar seperti bandara, stadion, dan aula, serta aplikasi struktur selubung bangunan. /Spindorn
Pipa baja ERW Spindo telah digunakan di beberapa proyek jembatan, proyek konstruksi terutama untuk bangunan bentang lebar seperti bandara, stadion, dan aula, serta aplikasi struktur selubung bangunan. /Spindorn

Bisnis.com, JAKARTA - The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) membeberkan sinyal peningkatan permintaan baja dikisaran 0-2% sepanjang paruh kedua 2023. 

Hal ini selaras dengan proyeksi World Steel Association (Worldsteel) yang memperkirakan permintaan baja tumbuh 1,8% pada 2023 dengan volume mencapai 1.814,5 juta metrik ton. 

Chairman IISIA Purwono Widodo mengatakan, meningkatnya permintaan baja ditopang oleh kebangkitan negara-negara dari perlambatan ekonomi global, meskipun pemulihan pasar akan membaik dengan hati-hati. 

"Membaiknya kondisi pasar juga diindikasikan dengan blast furnace di Zaporizhstal Iron and Steel Works-Ukraina yang mulai beroperasi kembali pada Maret 2023 yang diharapkan akan mencapai kapasitas penuh pada awal April 2023," kata Purwono kepada Bisnis, Rabu (8/11/2023). 

Lemahnya, permintaan global tak lain salah satunya dikarenakan invasi Rusia ke Ukraina yang tak kunjung usai. Padahal, Rusia dan Ukraina diketahui merupakan negara penyedia besar baja dan bahan mentah di dunia.

Pada 2021, ekspor baja dari kedua negara mencapai sekitar 48 juta ton, setara dengan 10% dari perdagangan baja global. Kedua negara tersebut juga berperan besar secara seimbang dalam perdagangan bijih besi dan pellet, hingga batu bara dan logam.

IISIA mencatat sejak Desember 2022, telah terjadi penyesuaian dimana harga baja telah terkoreksi karena biaya produksi yang lebih tinggi dan banyak produsen baja global telah mengumumkan kenaikan harga untuk Maret 2023. 

Perang Rusia-Ukraina telah memberikan dampak kepada fluktuasi harga baja yang cukup tajam dari level puncak ke level terendah. Perubahan arus perdagangan juga membuat harga bahan baku meningkat sehingga terjadi lonjakan biaya produksi, sementara permintaan global masih lemah. 

"Karena turunnya permintaan global, industri baja kini dibebani dengan persediaan bahan baku yang mahal sehingga industri beralih dari mencatat keuntungan fenomenal menjadi kerugian dalam satu kuartal," ungkapnya.

Menurut Purwono, kondisi kerugian tersebut muncul terutama dalam kinerja kuartal kedua dan ketiga tahun fiskal 2023. Namun, dia meyakini sentimen pasar global semakin membaik jelang akhir tahun ini. 

Lebih lanjut, dia menyampaikan bahwa kondisi perang yang masih terus berlangsung tetap perlu menjadi perhatian seluruh pihak, khususnya Pemerintah agar dapat mengantisipasi dengan kebijakan-kebijakan yang mampu menjaga iklim industri dan perdagangan.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper