Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

LPEM UI: Dampak El Nino Kerek Inflasi Oktober 2023 jadi 2,5%

LPEM UI memprediksi inflasi Oktober 2023 bisa naik menjadi 2,5% akibat dampak El Nino.
Pedagang menata barang dagangannya di salah satu pasar di Jakarta, Senin (18/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Pedagang menata barang dagangannya di salah satu pasar di Jakarta, Senin (18/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA –  Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan laju inflasi pada Oktober 2023 akan mengalami peningkatan secara tahunan, yang dipengaruhi oleh fenomena el nino.

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan tingkat inflasi pada Oktober 2023 diperkirakan sebesar 2,5% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 2,28% yoy.

Secara bulanan, Riefky memperkirakan tingkat inflasi Oktober 2023 sebesar 0,11% (month-to-month/mtm), lebih rendah dari 0,19% mtm pada September 2023.

Dia menyampaikan, perkembangan inflasi pada periode tersebut dipengaruhi oleh fenomena el nino yang mengerek harga komoditas pangan, terutama beras.

“Perkiraan kami inflasi di 2,5% secara tahunan atau secara bulanan berada di 0,11%. Ini didorong oleh masih tingginya harga beras akibat el nino, walaupun memang ini masih terjaga,” katanya kepada Bisnis, Selasa (31/10/2023).

Pada Konferensi Pers APBN Kita pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa kenaikan harga beras yang terjadi di seluruh dunia, termasuk di dalam negeri, menjadi perhatian pemerintah saat ini.

“Harga beras yang tadinya di level Rp12.100 per kg sekarang di lebel Rp14.000 per kg, inilah situasi yang kita hadapi, yang mempengaruhi komoditas baik karena geopolitik, kondisi keuangan AS yang volatile, dan karena adanya perubahan iklim atau faktor iklim yang mempengaruhi komoditas pangan seperti beras,” katanya.

Dari sisi inflasi, Sri Mulyani mengatakan bahwa laju inflasi umum memang cenderung turun, tapi inflasi pada komponen harga bergejolak atau volatile food mengalami tren peningkatan sejak Juli 2023.

“Untuk volatile food, kita lihat terjadi kenaikan yang cukup tinggi dari Juli ke September ke 3,6% yang tadinya mendekati deflasi,” jelasnya.

Selain itu, pemerintah juga melihat tekanan pada harga beras akan memberikan dampak, terutama bagi masyarakat rentan dan miskin.

Oleh karena itu, imbuh Sri Mulyani, pemerintah akan terus melihat dan merespons dari sisi supply, dengan memastikan pasokan beras di dalam negeri tetap memadai.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper