Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tantangan Ekonomi Indonesia Kini 'Hantu' Suku Bunga dan Dolar AS

Menko Airlangga menuturkan bahwa perekonomian Indonesia menghadapi tantangan dari suku bunga dan dolar AS yang lebih kuat.
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ketika ditemui dalam 11th US-Indonesia Investment Summit di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (24/10/23)/Bisnis - Jessica Gabriela Soehandoko
Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ketika ditemui dalam 11th US-Indonesia Investment Summit di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (24/10/23)/Bisnis - Jessica Gabriela Soehandoko

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa tantangan ekonomi Indonesia kini tergantung dari Amerika Serikat (AS). 

Airlangga menilai bahwa perekonomian Indonesia kini secara fundamental dinilai cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi yang menguat. Namun, ada tantangan dari AS.

“Satu-satunya tantangan hari ini tergantung dari suku bunga AS yang lebih kuat dan dolar AS yang menguat,” jelas Airlangga dalam paparannya di 11th US-Indonesia Investment Summit di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (24/10/23).

Adapun, dengan melihat tantangan tersebut, Airlangga menuturkan bahwa hal tersebut perlu untuk dimitigasi. 

Untuk mencegah capital outflow menurutnya Indonesia mampu untuk mempertahankan pertumbuhan di atas 5% selama tujuh kuartal berturut-turut. Pertumbuhan tersebut juga disertai dengan inflasi pada September 2023 sebesar 2,28%. 

“Di antara negara-negara lain, baik pertumbuhan ekonomi maupun inflasi [Indonesia] berada dalam kondisi yang lebih baik,” tutur Airlangga. 

Dia juga menuturkan bahwa rupiah saat ini tidak melemah melainkan dolar AS yang menguat. Hal ini terkait pada seluruh negara dan Indonesia perlu mengantisipasi. 

Dalam kesempatan tersebut, Erlangga juga memaparkan data dari Dana Moneter Internasional (IMF) terkait proyeksi perekonomian global dan di Indonesia. 

Berdasarkan laporan World Economic Outlook (WEO) terbaru yang dirilis Selasa (10/10/2023), IMF memproyeksikan perekonomian global pada 2023 sebesar 3% dan pada tahun depan sebesar 2,9%.

Adapun, IMF juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi indonesia pada 2023 dan 2024 masing-masing sebesar 5%.

Terkait dolar, mengacu dalam data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Selasa (24/10/23) ditutup menguat 0,53% atau 84,5 poin ke level Rp15.849 per dolar AS, mendekati level Rp 16.000. 

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu, yang juga hadir dalam acara tersebut menuturkan bahwa pihak dari Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) juga sedang berkomunikasi secara erat. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper