Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Goldman Waswas Ekonomi China Terdampak Krisis Properti usai Evergrande Bangkrut

Evergrande Group mengajukan kebangkrutan di AS dan memanaskan kembali kekhawatiran terhadap krisis properti di China.
Seorang pria berjalan melewati rambu Dilarang Masuk di dekat kantor pusat China Evergrande Group di Shenzhen, provinsi Guangdong, China 26 September 2021./Reuters
Seorang pria berjalan melewati rambu Dilarang Masuk di dekat kantor pusat China Evergrande Group di Shenzhen, provinsi Guangdong, China 26 September 2021./Reuters

Bisnis.com, JAkARTA – Goldman Sachs Group Inc memangkas target terhadap saham-saham di China menyusul kekhawatiran terhadap krisis properti China dan dampaknya terhadap perlambatan ekonomi setelah Evergrande Group mengajukan kebangkrutan di Amerika Serikat.

Evergrande sendiri resmi mengajukan kebangkrutan di Amerika Serikat pada Kamis (17/8/2023). Evergrande mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 15 di New York. Langkah ini melindunginya dari para kreditor di AS saat mengupayakan kesepakatan restrukturisasi di negara lain.

"Pengajuan tersebut merupakan prosedur normal untuk restrukturisasi utang luar negeri dan tidak melibatkan (a) petisi kebangkrutan," ungkap Evergrande dalam pengajuannya seperti dilansir Reuters, Senin (21/8/2023).

Menyusul kekhawatiran ini, Goldman memangkas target terhadap saham-saham di China sampai pemerintah memperkenalkan respons kebijakan yang lebih tegas untuk mengatasi risiko dampak krisis sektor properti terhadap perekonomian.

Goldmand memangkas estimasi pertumbuhan laba per saham setahun penuh untuk Indeks MSCI China menjadi 11 persen dari 14 persen dan mengurangi target indeks 12 bulan menjadi 67 dari 70, Target baru tersebut mengimplikasikan kenaikan 13 persen dari penutupan indeks pada hari Jumat.

"Kegembiraan pasca-Politburo bulan Juli hanya berlangsung singkat. Pasar perumahan yang sedang sakit dan potensi dampaknya ke ekonomi riil dan finansial menjadi alasan,” ungkap tim analis Goldman sperti dilansir Bloomberg, Senin (koreksi."

Ini adalah kedua kalinya dalam tiga bulan terakhir Goldman menurunkan outlooknya terhadap ekuitas China, karena pesimisme merembes ke pasar saham negara ini menyusul krisis properti yang semakin dalam dan tanda-tanda tekanan dalam sistem shadow banking.

Evergrande sendiri bukan satu-satunya penyebab memburuknya krisis properti di China. Pengembang properti swasta terbesar China, Country Garden, juga terancam mengalami gagal bayar. Hal ini memicu kekhawatiran terhadap kesehatan sektor properti Negeri Panda lantaran Country Garden selama ini dianggap sebagai pengembang yang sehat secara finansial.

Country Garden tercatat memiliki utang sebesar 1,4 triliun yuan (US$191,7 miliar). Jumlah ini hanya sekitar 59 persen dari total utang Evergrande yang mencapai US$330 miliar. Namun, Country Garden memiliki 3.121 proyek di seluruh provinsi di China, jauh lebih besar dibandingkan proyek Evergrande yang mencapai sekitar 800 proyek.

Moody’s Investors Service mengungkapkan, meningkatnya gagal bayar pengembang properti telah mengerek rasio kredit macet bank-bank China menjadi 4,4 persen pada akhir tahun lalu dari 1,9 persen pada tahun 2020.

Di sisi lain, gagal bayar Country Garden tidak terlalu mengejutkan pasar seperti halnya Evergrande karena sebagian besar pengembang swasta telah gagal bayar sebelumnya. Namun, kasus ini muncul ketika pasar properti dan ekonomi berada dalam kondisi yang jauh lebih buruk.

Evergrande sudah bangkrut pada saat gagal bayar, tetapi Country Garden saat ini masih memiliki lebih banyak aset dibanding liabilitas. Analis memperingatkan bahwa Country Garden dapat bangkrut jika harus menghapus pencadangan dalam jumlah besar dan mengalami ekuitas negatif jika nilai asetnya turun.

 

Langkah Pemerintah China

Politbiro atau badan pembuat keputusan tertinggi dari Partai Komunis China, memicu spekulasi bahwa lebih banyak stimulus akan diberikan. Ini terlihat setelah Politbiro menghilangkan frasa yang sering diulang-ulang bahwa "rumah adalah untuk ditinggali, bukan untuk spekulasi" dalam sebuah pernyataan pada akhir Juli saat mereka berjanji untuk menyesuaikan kebijakan-kebijakan properti secara tepat waktu.

Namun sejauh ini belum ada langkah-langkah stimulus yang berani yang diumumkan, dan pandangan para pakar industri terpecah di antara para ahli industri mengenai apakah langkah-langkah tersebut akan terjadi.

Banyak analis berharap bahwa Beijing, yang sejauh ini menahan diri dari dana talangan yang didanai negara, akan meluncurkan langkah-langkah drastis dalam beberapa pekan mendatang untuk membendung krisis properti.

Namun, beberapa analis menyimpan pertanyaan atas alat kebijakan apa yang dapat digunakan pemerintah China sambil mempertahankan keseimbangan antara memberikan dukungan pada pasar perumahan dan menjaga utang tetap terkendali.

Langkah-langkah terbaru pemerintah untuk meningkatkan kepercayaan pasar bersifat sedikit demi sedikit. Para ekonom Goldman juga memperkirakan bahwa stimulus berskala besar dari Beijing tidak akan diberikan untuk saat ini.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper