Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Selain Jakarta, 5 Kota di Dunia Ini Pernah Terapkan Sistem Ganjil Genap

Sistem ganjil genap tidak hanya diterapkan di Jakarta untuk mengurai kemacetan, tetapi juga pernah diterapkan di beberapa kota lainnya di dunia.
Sejumlah jalur lalu lintas (lalin) terpantau macet di daerah Jabodetabek pada Selasa (21/3/2023) malam./Instagram @jakarta.terkini
Sejumlah jalur lalu lintas (lalin) terpantau macet di daerah Jabodetabek pada Selasa (21/3/2023) malam./Instagram @jakarta.terkini

Skema ganjil genap di Paris

2. Paris, Prancis

Kota yang dikenal dengan nuansa romansanya ini juga pernah menerapkan skema ganjil-genap untuk mengendalikan tingkat polusi di udara. Pada 17 Maret 2017, yang mana adalah hari Senin, pemerintah melarang kendaraan pribadi roda empat dan dua dengan plat nomor genap melintas di sejumlah ruas jalan. Mobil listrik, hibrida, bertenaga gas alam dan carpool dengan tiga penumpang atau lebih dikecualikan dari kebijakan ini.

Namun, kebijakan ini hanya berlaku satu hari sebab kualitas udara kota segera terkendali setelah berlakunya skema ganjil-genap.

Sesuai laporan Airparif, badan pemantau kualitas udara kota, ada pengurangan lalu lintas sebesar 18 persen dan karenanya penurunan tingkat PM10 sebesar 2 persen. Selama jam sibuk, polusi turun 20 persen dan nitrogen oksida turun sebanyak 30 persen di sepanjang jalan utama.

Pada Desember 2016, skema ganjil-genap kembali diterapkan setelah lonjakan tingkat polusi kembali tercatat di kota tersebut. Selama skema diterapkan, pemerintah menggratiskan tarif kendaraan umum untuk masyarakat.

3. Meksiko, Meksiko

Meksiko menjadi kota pertama yang menerapkan skema ganjil-genap. Pada awal 1989, pemerintah memperkenalkan kebijakan yang disebut “Hoy No Circula”, yang berarti “hari ini tidak beredar”.

Kebijakan tersebut melarang kendaraan dengan plat nomor berakhiran angka 5 dan 6 berkendara di hari Senin, 7 dan 8 di hari Selasa, dan seterusnya.

Skema ganjil-genap ini dilaporkan mampu mengurangi tingkat karbon hingga 11 persen. Namun, masyarakat menanggapi kebijakan ini dengan langkah kontradiktif.

Masyarakat kalangan atas justru membeli mobil lain untuk menghindari pembatasan. Hal tersebut sempat menyebabkan peningkatan penjualan mobil di Meksiko.

Pada 1992, delapan tahun memasuki aturan ganjil-genap, tingkat polusi meningkat hingga kota ini dinyatakan sebagai kota paling tercemar di dunia oleh PBB. Skema ganjil-genap akhirnya berhenti diterapkan pada 1993.

4. Roma, Italia

Pada Desember 2015, dua kota besar Italia, Milan dan Roma menerapkan pembatasan akses untuk kendaraan terkait tingkat kabut asap yang meningkat.

Di Milan, seluruh kendaraan pribadi dilarang keluar selama enam jam sehari untuk tiga hari berturut-turut. Sementara di Roma, kendaraan pelat nomor ganjil dilarang keluar selama sembilan jam pada hari Senin dan pelat nomor genap pada hari Selasa.

Untuk mendukung skema pembatasan tersebut, pemerintah mendorong penggunaan transportasi umum dengan menerbitkan sebuah tiket yang dapat digunakan untuk satu hari penuh. “Tiket anti kabut asap” ini berlaku sepanjang hari untuk bus dan metro.

Di samping itu, Roma dan Milan juga termasuk area Zona Emisi Rendah atau Low Emission Zones (LEW) di mana kendaraan yang tidak memenuhi standar tertentu dilarang memasuki bagian kota tertentu.

5. Bogota, Kolombia

Mengambil inspirasi dari Meksiko, Bogota ibu kota Kolombia menerapkan skema ganjil-genap selama jam sibuk untuk dua hari per minggu dan mendenda pelanggar 15 persen dari upah minimum harian mereka.

Diperkenalkan pada 1998, skema tersebut membatasi empat nomor setiap harinya untuk kendaraan pribadi. Misalnya pada tahun 2011, pada hari Senin plat nomor yang diakhiri dengan 5, 6, 7 dan 8 dilarang dan plat yang diakhiri dengan 9, 0, 1 dan 2 dibatasi pada hari Selasa.

Untuk memastikan bahwa orang tidak mengikuti cara Meksiko dan membeli dua mobil, pihak berwenang akan mengganti kombinasi hari dan angka setiap tahun sejak 1998.

Namun, kebijakan yang disebut Pico y Placa atau berarti puncak dan piring, tidak menghasilkan hasil yang positif karena masyarakat cenderung memilih untuk mengemudi pada waktu-waktu di luar jam sibuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper