BPS: Nilai Tukar Petani Mei 2023 Turun 0,34 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani pada Mei 2023 sebesar 110,20 atau turun 0,34 persen bila dibandingkan April 2023.
Petani beraktivitas di lahan persawahan di kawasan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (17/1/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Petani beraktivitas di lahan persawahan di kawasan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (17/1/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani pada Mei 2023 sebesar 110,20 atau turun 0,34 persen bila dibandingkan April 2023.

Penurunan NTP karena indeks harga yang diterima petani turun 0,02 persen, sementara indeks harga yang dibayarkan petani mengalami kenaikan 0,32 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, terdapat empat komoditas yang memengaruhi penurunan indeks petani tersebut, yaitu kelapa sawit, cabai rawit, karet, dan cabai merah.

“Peningkatan NTP tertinggi terjadi pada subsektor holtikultura, di mana naik 1,26 persen. Kenaikan karena indeks harga yang diterima petani naik 1,61 persen sedangkan indeks yang dibayar petani sebesar 0,34 persen,” ujar Pudi dalam rilis Berita Resmi Statistik, Senin (5/6/2023).

Sementara itu, ada empat komoditas yang mendorong kenaikan indeks yang diterima petani adalah bawang merah, salak, jeruk, dan kacang panjang.

Pudji mengungkapkan, penurunan NTP terdalam dialami subsektor tanaman perkebunan rakyat. NTP ini turun sebesar 2,53 persen. Penurunan terjadi karena indeks yang diterima petani turun 2,29 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani naik 0,25 persen.

Adapun, empat komoditas yang dominan penurunan indeks yang diterima petani untuk subsektor perkebunan ini adalah karet, kelapa sawit, pinang dan kelapa.

Selanjutnya, untuk nilai tukar usaha petani (NTUP) pada Mei 2023 tercatat 110,74 atau turun 0,16 persen dibandingkan April 2023. Penurunan NTUP karena indeks yang diterima petani turun 0,02 persen, sementara indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) mengalami kenaikan 0,13 persen.

“Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan indeks harga terima petani adalah kelapa sawit, cabai rawit, karet dan cabai merah,” tutur Pudji.

Dia mengatakan, terdapat peningkatan NTUP yang tertinggi pada subsektor holtikultura naik 1,47 persen. Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 1,61 persen, lebih tinggi dibanding kenaikan BPPBM yang mengalami kenaikan 0,13 persen.

“Kemudian komoditas yang memengaruhi BPPBM subsektor holtikultura itu adalah bibit kentang, bibit bawang merah, plastic transparan, dan pembasmi serangga,” ujar Pudji.

Sementara itu, penurunan NTUP terdalam terjadi pada subsektor tanaman rakyat yang turun 2,37 persen. Penurunan ini terjadi karena indeks yang diterima petani turun 2,29 persen sedangkan BPPBM naik 0,09 persen. Adapun, komoditas yang memengaruhi BPPBM ini adalah ongkos angkut, upah memanen, cuka getah dan nitrogen pospat kalium (NPK).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper