Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Banyak Pabrik Tumbang, Asosiasi Buka Suara Soal Data Ekspor 2022 yang Moncer

Pelaku usaha menilai imbas pelemahan ekspor baru terasa memasuki awal tahun ini.
Proses penjahitan produk tekstil di pabrik PT Pan Brothers Tbk. /panbrotherstbk.com
Proses penjahitan produk tekstil di pabrik PT Pan Brothers Tbk. /panbrotherstbk.com

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pertekstilan Indonesia membuka suara mengenai data ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) yang tercatat moncer pada 2022 lalu, seiring klaim kondisi industri yang lesu akibat pelemahan ekspor.

Sebelumnya, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, kinerja ekspor produk tekstil yang terhimpun dalam kode Harmonized System (HS) 61 Pakaian dan aksesori pakaian, rajutan atau kaitan masih dalam tren positif.  

Secara nilai, bahkan tercatat mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam data yang dihimpun BPS, pada 2022 tercatat nilai ekspor HS 61 ini sejumlah US$4,6 miliar atau setara dengan Rp69,53 triliun (dengan kurs Rp14.859). 

Angka ini meningkat 6,52 persen dari ekspor HS 61 pada tahun 2021 yang mencapai US$4,39 miliar atau Rp65,27 triliun. Meskipun secara volume ekspor, tercatat terjadi penurunan sebesar 6,21 persen menjadi 236.709,97 ton dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 252.403,97 ton.

Anggota Dewan Pertimbangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) sekaligus Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Anne Patricia Sutanto menuturkan pertumbuhan kinerja ekspor memang berkaitan erat dengan kondisi global.

Namun, menurutnya, meskipun pada 2022 lalu kondisi perekonomian global dihantui krisis perekonomian akibat meletusnya perang Rusia-Ukraina dampak terhadap industri tidak seketika. Imbas kelesuan permintaan global itu, katanya, baru terasa memasuki awal tahun ini.

Menurutnya, hal ini yang membuat industri tekstil tetap mencatatkan pertumbuhan ekspor, karena para retailer di pasar global sudah terlanjur memesan barang pada produsen, termasuk produsen tekstil di Indonesia.

“Ekspor tekstil kan ada hubungannya kondisi global. Tahun lalu ada perang Rusia-Ukraina, efeknya order 2023, karena di 2022 sudah terlanjur order,” tutur Anne saat dihubungi Bisnis pada Rabu (24/5/2023).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produk domestik bruto (PDB) industri tekstil dan pakaian jadi pada kuartal I/2022 tercatat sebesar Rp34,61 triliun, lalu meningkat 1,61 persen pada kuartal selanjutnya menjadi Rp35,17 triliun.

Kemudian pada kuartal III/2022 mulai melambat dengan penurunan 0.9 persen menjadi Rp34,85 triliun. Penurunan ini dilanjutkan oleh kuartal selanjutanya, kuartal IV yang menurun sebesar 0,43 persen menjadi Rp34,70 triliun.

Memasuki tahun 2023, tren penurunan ini masih berlanjut pada kuartal I/2023 dengan PBD ADHK sebesar Rp34,58 triliun. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,34 persen dari kuartal sebelumnya.

Dengan penurunan kinerja ini, Anne tidak menyangkal jika di ujung tahun lalu, industri tekstil sudah mulai memangkas jumlah karyawan dan berlanjut hingga kini. Menurutnya, hal ini dilakukan karena melihat permintaan di awal 2023 sudah berkurang.

“Pada kuartal IV/2022, industri TPT baru mulai PHK [pemutusan hubungan kerja], karena 2023 kan order dari pelanggan brands dan retailers international, ordernya berkurang,” tambah Anne.

Dalam catatan Bisnis pada Rabu (2/11/2022), sebanyak 64.000 tenaga kerja industri tekstil yang beroperasi di Provinsi Jawa Barat dilaporkan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang Oktober 2022 dari 124 perusahaan. Selain itu, 18 pabrik juga dilaporkan tutup. 

Pabrik garmen yang tercatat telah tumbang akibat penurunan permintaan dari luar negeri ini berdasarkan catatan Bisnis pada Minggu (21/5/2023) adalah PT Tuntex Garment Indonesia, pabrik tekstil yang memproduksi merek Puma, terpaksa merumahkan 1.163 pekerjanya lantaran tidak sanggup membayar upah. 

PT Tuntex diketahui merupakan produsen pakaian dengan nama dagang Puma yang dipasarkan di luar negeri. Namun, dari tahun lalu Tuntex mulai kehilangan pasarnya dengan banyaknya pesanan dibatalkan, hingga kemudian berhenti beroperasi secara total.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Widya Islamiati
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper