Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Duh! ADB Ramal Ekonomi Indonesia Cuma Tumbuh 4,8 Persen Tahun Ini

Asian Development Bank (ADB) meramal pertumbuhan ekonomi RI hanya 4,8 persen pada tahun ini. Apa penyebabnya?
Logo Asian Development Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (8/4/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Logo Asian Development Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (8/4/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Asian Development Bank (ADB) dalam laporan terbarunya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini akan melambat ke tingkat 4,8 persen dan akan kembali meningkat ke 5 persen pada 2024.

Direktur ADB untuk Indonesia Jiro Tominaga menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berhasil tumbuh 5,3 persen karena didorong oleh lonjakan komoditas ekspor, yang menggantikan lemahnya permintaan di dalam negeri.

Sementara itu, tekanan global pada 2023 diproyeksikan akan memangkas pertumbuhan ekspor, meski transaksi berjalan diperkirakan akan tetap mendekati seimbang. 

“Namun karena pengeluaran rumah tangga merupakan kontributor besar perekonomian Indonesia, kembali normalnya belanja konsumen dan manfaat dari penurunan inflasi akan menopang pertumbuhan. Meskipun demikian, investasi kemungkinan belum akan menguat karena dunia usaha masih wait & see,” katanya dalam keterangan resmi, Selasa (4/4/2023).

Jiro mengatakan besarnya angka ekspor menghasilkan tambahan pendapatan yang memungkinkan Indonesia memangkas defisit anggaran hingga di bawah 3 persen dari PDB, setahun sebelum tenggatnya.

Laju inflasi pun sudah menunjukkan tren penurunan, berkat melemahnya harga komoditas dan pengetatan kebijakan moneter.

ADB memperkirakan laju inflasi Indonesia akan turun ke sekitar 3,5 persen pada Desember dan mencapai rata-rata 4,2 persen pada 2023.

Jiro menambahkan bahwa hal yang menjadi perhatian dalam jangka menengah dan panjang adalah bahwa hilangnya pendapatan para pekerja dan hilangnya pembelajaran anak-anak selama pandemi dapat mengurangi potensi pertumbuhan.

Sebagian besar indikator ketenagakerjaan tercatat telah membaik dibandingkan dengan data pada 2020, tetapi belum kembali ke tingkat sebelum pandemi Covid-19. 

"Di sisi lain, Program Kartu Prakerja dari pemerintah, yang memberikan keterampilan teknis dan kejuruan melalui pembelajaran digital dan pelatihan untuk memulai usaha dinilai efektif membantu memitigasi dampak buruk terhadap pasar tenaga kerja," ujarnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper