Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

KCI Sepakati Desain KRL Buatan Inka, Nilainya Rp3,8 Triliun!

PT KCI menyepakati desain teknologi KRL buatan PT Inka dengan pengadaan senilai Rp3,8 triliun.
Rangkaian kereta rel listrik (KRL) yang dikelola oleh anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero) berada di dipo kereta, Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/8/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Rangkaian kereta rel listrik (KRL) yang dikelola oleh anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia/KAI (Persero) berada di dipo kereta, Depok, Jawa Barat, Sabtu (13/8/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – PT Industri Kereta Api (Persero) atau PT Inka telah menyepakati desain kereta rel listrik (KRL) dengan PT Kereta Commuter Indonesia atau KAI Commuter.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama PT Inka Eko Purwanto setelah Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (27/3/2023). 

Sebelumnya, PT Inka bersama dengan KAI Commuter telah sepakat melakukan pengadaan 16 trainset KRL dengan nilai Rp3,8 triliun dan dipenuhi pada 2025.

Eko mengatakan Inka dan KAI Commuter telah memfinalisasi desain teknologi untuk armada KRL anyar tersebut. Dia mengatakan, kedua pihak telah menyepakati spesifikasi teknologi, komponen dan lainnya.

“Desain teknologi sudah final, baru oke kemarin. Interior dan komponen juga sudah oke semua,” katanya pada Senin (27/3/2023).

Eko melanjutkan, rangkaian kereta ini telah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sekitar 45 persen. Dia menyebutkan, level TKDN rangkaian KRL tersebut bahkan berpotensi mencapai sekitar 50 persen.

Menurut Eko, hal tersebut dimungkinkan karena Indonesia sudah mampu memproduksi sebagian besar komponen mekanis untuk KRL. Selain itu badan kereta atau car body juga sepenuhnya akan diproduksi di Indonesia melalui Inka.

Dia mengatakan, beberapa komponen yang masih diimpor diantaranya adalah sistem propulsi, sejumlah komponen pengereman (braking), wheelset, serta perangkat-perangkat lunak (software) terkait.

“Kalau mekanik kita sudah bisa produksi di dalam negeri. Yang masih banyak butuh impor itu komponen electrical dan terkait software,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper