Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jurus Teknomedika Penuhi Impor Bahan Baku Masker N95

PT Teknomedika Manufaktur Indonesia, produsen masker N95, mengatur strategi mendapatkan bahan baku produksi di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih impor.
Ilustrasi masker N95
Ilustrasi masker N95

Bisnis.com, JAKARTA - PT Teknomedika Manufaktur Indonesia, produsen masker N95, mengatur strategi untuk mendapatkan bahan baku produksi di tengah perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan ketidakstabilan geopolitik.

Pasalnya, perusahaan yang mulai memasarkan produk pada 2020 ini harus mengimpor bahan baku berupa lapisan masker bernama meltblown untuk bisa memproduksi masker N95.

Direktur Utama PT Teknomedika Manufaktur Indonesia Ketut Bagus Priambada Putra, sudah memprediksi akan ada kenaikan harga lapisan meltbown yang dibelinya dari China usai meletusnya perang Rusia-Ukraina pada awal 2022.

Dengan demikian, pihaknya sudah menyiapkan strategi dengan memborong banyak bahan baku tersebut, sebelum kenaikan harga terjadi.

“Jadi sebelum ada kenaikan bahan harga bahan itu saya udah ya buru-buru impor bahan dulu,” kata Bagus kepada Bisnis.com, Jumat (24/2/2023).

Terlebih, kata Bagus, pasca perang meletus, kenaikan harga lapisan meltdown ini tergolong signifikan. Sementara, Bagus menyebut, pihaknya belum bisa menggunakan lapisan meltblown buatan lokal.

“Kalau di dalam negeri sulit menemukan lapisan ini dengan kualitas tinggi, karena walaupun misalnya secara visual materialnya terlihat mirip, tapi kualitasnya masih kurang,” tutur Bagus.

Menurutnya, ada suatu proses setelah produksi yang harus dilalui oleh lapisan yang mudah robek ini, tetapi tak dilakukan oleh produsen lapisan meltblown di dalam negeri. Hal ini lah yang membuatnya memutuskan untuk menggunakan lapisan meltblown asal China.

Meskipun demikian, Bagus menyebut, masker N95 buatan Teknomedika sudah mengantongi sertifikat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) 40 persen.

“Makin banyak produsen lokal yang kita coba kolaborasi, kita gali partnership, kita berusaha untuk membuat ini bahkan bisa dinilai 70 sampai 80 persen,” pungkas Bagus.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Widya Islamiati
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper