Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Industri Tekstil Tumbuh 9,34 Persen, Pengusaha: Paruh Pertama Tumbuh, Paruh Kedua Runtuh

Berdasarkan data BPS, industri tekstil pada tahun lalu masih mencatatkan pertumbuhan. Menurut pengusaha, kinerja moncer itu berasal dari paruh pertama 2022.
Pedagang merapikan kain di salah satu gerai di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (8/12/2020). /Bisnis.com-Himawan L Nugraha
Pedagang merapikan kain di salah satu gerai di Pasar Tanah Abang, Jakarta, Selasa (8/12/2020). /Bisnis.com-Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan PDB industri tekstil dan produk tekstil atau TPT sepanjang 2022 mencapai 9,34 persen. Sebaliknya, sepanjang sisa paruh kedua tahun lalu, pelaku usaha banyak melakukan PHK.

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) industri tekstil dimulai sejak kuartal III/2022 lalu. Para pelaku usaha mengaku pasar ekspor tengah melemah plus sulitnya menyerap pasar domestik seiring banjir impor.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSYFI) Redma Gita Wirawasta menyebut, pertumbuhan ini terbantu oleh kinerja pada kuartal I dan kuartal II/2022 yang masih moncer.

“Kuartal I dan kuartal II 2022 pertumbuhan kan 12 persen dan 13 persen. Namun di kuartal III dan kuartal IV, indikator pertumbuhan secara Q to Q [kuartal ke kuartal] kan sudah melambat,” ungkap Redma saat dihubungi Bisnis pada Rabu, (8/2/2023).

Terlebih, menurutnya, pada tahun sebelumnya industri tekstil masih dalam tren negatif, karena pandemi Covid-19 pada 2021 masih tinggi. Hasilnya, pertumbuhan 2022 kemarin bisa memetik angka yang cukup tinggi secara year on year (yoy).

Redma mengungkapkan pada tahun lalu, pasar ekspor memang melemah sejak awal periode akibat kenaikan ongkos pelayaran dan kelangkaan kontainer, tetapi pasar domestik masih bisa digenggam. Persoalannya, seiring pelonggaran mobilitas maka masuk produk impor yang membanjir.

“Pada semester II, ketika permintaan ekspor [juga] melemah dan disisi lain pasar domestik dibanjiri barang impor, sehingga berdampak perumahan karyawan dan penutupan beberapa pabrik,” jelas Redma.

Hal inilah yang menurut Redma, membuat pihaknya terus mendesak pemerintah agar dapat mengamankan pasar domestik untuk produk dalam negeri, terutama bagi produk ilegal.

“Pada 2023 kami tetap meminta upaya pemerintah untuk mengamankan pasar domestik khususnya dari barang impor ilegal agar kinerja industri tetap terjaga,” pungkas Redma.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Widya Islamiati
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper