Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Menyusul Nikomas, Gelombang PHK Menimpa Produsen Sepatu Adidas

Panarub Industry yang merupakan produsen sepatu Adidas ikut terimbas pelemahan permintaan global. Perusahaan masih terus melakukan PHK.
Suasana bubar pabrik PT Panarub Industry pada Kamis (12/1/2023). Widya Islamiati
Suasana bubar pabrik PT Panarub Industry pada Kamis (12/1/2023). Widya Islamiati

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah PT Nikomas Gemilang sebagai produsen sepatu, kali ini giliran PT Panarub Industry yang mengangkat bendera putih di tengah kelesuan permintaan ekspor.

Panarub  selama ini merupakan salah satu produsen sepatur bermerek Adidas. Karena itu, kelesuan permintaan yang juga berdampak terhadap Adidas hingga memangkas jumlah karyawannya, ikut menyeret kinerja pabrik yang berada di Tangerang, Banten tersebut.

Saat ditemui Bisnis, salah seorang karyawan Panarub yang terkena imbas PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) sejak November lalu mengatakan, sejauh ini pabrik secara terus menerus mengurangi jumlah pekerja.

“Iya ada PHK [pemutusan hubungan kerja], buktinya saya kena, bulan November kemarin,” ungkap pria berinisial A mantan karyawan Panarub, di depan pabrik PT Panarub, pada Kamis (12/1/2023).

A menyebutkan, untuk pemutusan hubungan kerja ini bersifat acak, tidak mengacu kepada masa kerja para pekerja pabrik.  tidak ada spesifikasi sudah berapa lama karyawan yang akan dipangkas, bekerja di pabrik yang telah berhasil mengekspor produknya ke luar negeri ini.

Menurut A, hingga saat ini Panarub masih terus melakukan PHK. Salah satu penuturan lainnya malah mengungkapkan ada pekerja dengan masa kerja hingga 8 tahun ikut terkena imbas PHK. 

“Teman saya kemarin kirain nggak kena, kan 8 tahun dia [bekerja di PT Panarub], kena juga,” ungkap AS saat ditemui di sekitar pabrik Panarub pada Kamis (12/1/2023).

Bahkan seorang karyawati lain mengungkapkan, tidak hanya memangkas jumlah karyawan, perusahaan pun tengah merencanakan kepindahan fasilitas produksi. Panarub, jelas karyawati tersebut, akan memindahkan pabrik ke Jawa Tengah, tepatnya ke Kabupaten Brebes. 

Berkaitan dengan hal ini, seorang karyawati paruh baya yang sudah bekerja di PT Panarub selama 25 tahun menyebut, setiap harinya, selalu ada karyawan yang dikeluarkan dari Panarub.

“Masih [PHK], setiap hari ada aja yang kena,” katanya, saat ditemui di area PT Panarub pada Kamis (12/1/2023).

Hal senada juga dituturkan seorang karyawati berusia sekitar 25 tahun yang masih bekerja di PT Panarub. Menurutnya, keadaan ini masih akan berlanjut hingga karyawan PT Panarub berkurang hingga berjumlah 2.000 karyawan. 

Sementara, karyawati tersebut menuturkan,  jumlah karyawan yang masih bertahan di pabrik yang sudah berdiri sejak 1968 ini masih sekitar 8.000 karyawan. Sehingga kemungkinan, menurutnya, masih ada sekitar 6.000 karyawan yang akan kehilangan mata pencahariannya.

Sayangnya, pihak Panarub Industry belum mengonfirmasi kondisi terkini. 

Bersumber dari akun Linkedin resminya, PT Panarub Industry (Group) terakhir kali memasang lowongan pekerjaan lima bulan yang lalu, untuk posisi Spesialis Pengembang ABAP. Setelah itu, hingga kini belum ada aktivitas lain dari akun tersebut.

Di akun Linkedin itu juga, PT Panarub mengaku memiliki karyawan lebih dari 15.000 karyawan dan memproduksi lebih dari 20 juta pasang sepatu olahraga pria dan olah raga wanita.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Adi Mahfudz menyebutkan penyebab utama badai PHK ini adalah menurunnya permintaan yang diterima oleh pabrik-pabrik tersebut.

“Tersebut terkait dengan melemahnya order,” kata Adi saat dihubungi Bisnis pada Kamis (12/1/2023).

Menurutnya, ekspor Indonesia melemah setelah Amerika Serikat yang didera inflasi dan Eropa yang terdampak perang Rusia-Ukraina. Adi mengungkapkan para pelaku industri belum bisa memastikan sampai kapan kondisi ini akan pulih kembali. 

“Sampai stabilnya kondisi pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor,” tambahnya.

Senada, Anggota Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Anton Joenoes Supit juga menyebutkan badai PHK ini disebabkan oleh tidak stabilnya ekonomi global.

Dia menegaskan, kondisi ini tidak hanya menyerang industri sepatu saja, tetapi juga berbagai industri di berbagai sektor.

“Ini bukan komoditasnya atau perusahaannya ada masalah, bukan itu, tapi itu satu gejala umum dan ini hanya sementara, dan jangan bayangkan bisnis sepatu di Indonesia sudah tidak cocok, itu masih sangat menarik,” tegas Anton.

Sebelumnya, produsen sepatu PT Nikomas Gemilang menawarkan referensi diri secara sukarela pada 1.600 karyawannya. Hal ini merupakan langkah terakhir yang dilakukan oleh Nikomas untuk tetap bertahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Penulis : Widya Islamiati
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper