Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Chatib Basri Sebut Penyebab Orang Tunda Pernikahan dan Punya Anak, Apa Itu?

Chatib Basri menyebut terdapat kecenderungan bahwa orang-orang di negara maju memiliki lebih sedikit anak daripada orang-orang di negara berkembang.
Chatib Basri menyebut terdapat kecenderungan bahwa orang-orang di negara maju memiliki lebih sedikit anak daripada orang-orang di negara berkembang. /Foto-Istimewa
Chatib Basri menyebut terdapat kecenderungan bahwa orang-orang di negara maju memiliki lebih sedikit anak daripada orang-orang di negara berkembang. /Foto-Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena waithood, yakni menunda pernikahan atau memiliki momongan, berkaitan dengan kondisi ekonomi suatu negara, yang memengaruhi biaya untuk membesarkan anak.

Saat ini terdapat fenomena orang-orang menunda pernikahannya, atau mereka yang sudah menikah menunda untuk memiliki anak. Menteri Keuangan periode 2013—2014 dan pengajar senior Universitas Indonesia Chatib Basri menilai bahwa hal tersebut tak lepas dari kondisi ekonomi suatu negara.

Menurutnya, terdapat kecenderungan bahwa orang-orang di negara maju memiliki lebih sedikit anak daripada orang-orang di negara berkembang. Hal itu dapat dijelaskan oleh konsep permintaan terhadap anak atau opportunity cost.

Dede, panggilan akrab Chatib, menjelaskan bahwa apabila di suatu negara terdapat kemudahan dalam memperoleh pekerjaan, orang-orang dapat masuk bursa kerja. Dalam sebuah pernikahan, suami dan istri dapat bekerja dan memiliki pendapatan.

Apabila mereka memiliki anak, terdapat kemungkinan salah satu antara istri atau suami berhenti bekerja. Akibatnya, terdapat pendapatan yang hilang atau foregone income.

"Ini adalah cerminan dari opportunity cost atau pengorbanan yang harus dilakukan jika memiliki anak, dan itu adalah cerminan dari harga untuk memiliki anak. Jika harganya relatif mahal, maka permintaan terhadap anak akan mengalami penurunan," ujar Chatib dalam unggahan video di akun Instagramnya, Selasa (27/12/2022).

Menurutnya, kondisi sebaliknya terjadi di negara berkembang. Sulitnya memperoleh pekerjaan dapat membuat salah satu pihak, antara istri atau suami tidak memiliki pekerjaan sehingga penghasilan rumah tangga berasal dari satu orang.

Dalam kondisi itu, menurut Chatib, penurunan pendapatan apabila rumah tangga tersebut memiliki anak relatif kecil. Alasannya, tidak terdapat foregone income atau pendapatan yang hilang karena salah satu pihak memang tidak bekerja.

"Akibatnya, jika mereka memiliki anak, foregone income relatif kecil. Pengorbanan untuk memiliki anak relatif kecil, sehingga harga anak juga relatif kecil. Akibatnya, permintaan terhadap anak mengalami peningkatan," kata Chatib.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper