Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Inflasi November Melambat, Ini Kata Kemenkeu

Inflasi pada Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2022 melambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya
Ni Luh Anggela
Ni Luh Anggela - Bisnis.com 02 Desember 2022  |  07:45 WIB
Inflasi November Melambat, Ini Kata Kemenkeu
Pedagang merapikan dagangannya di salah satu pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat, Senin (21/11). Bank Indonesia (BI) melaporkan consensus forecast pada November 2022 menunjukkan ekspektasi inflasi pada akhir 2022 masih tinggi yakni di level 5,9% (year-on-year/yoy). - Bisnis/Abdurachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2022 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,09 persen secara bulanan atau secara tahunan sebesar 5,42 persen. 

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), angka tersebut melemah dibandingkan inflasi Oktober 2022 yang mencapai 0,11 persen secara bulanan atau 5,71 persen secara tahunan.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (BKF Kemenkeu) Febrio Kacaribu menyampaikan, inflasi November ini lebih rendah dari prediksi internal Kemenkeu. Ini, kata dia, membuktikan bahwa stabilitas harga dalam negeri bisa dijaga di tengah tekanan inflasi global yang masih tinggi.

Inflasi yang mulai melandai tersebut, tentunya tidak lepas dari keberhasilan koordinasi antara otoritas terkait.

“Ini merupakan hasil positif dari bauran kebijakan pengendalian inflasi, terutama komponen inflasi pangan. Keberhasilan tersebut dicapai melalui koordinasi antar otoritas terkait dalam upaya menjaga daya beli masyarakat yang perlu terus diperkuat untuk mendukung pemulihan ekonomi,” kata Febrio dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (2/12/2022).

Jika dilihat dari komponen pembentuk inflasi, inflasi inti tercatat masih berada pada level 3,3 persen (year-on-year/yoy). Febrio mengatakan, angka tersebut mencerminkan masih kuatnya daya beli masyarakat di tengah kenaikan harga.

Inflasi pangan bergejolak atau volatile food secara tahunan tercatat menurun menjadi 5,7 persen dari bulan sebelumnya 7,20 persen. Penurunan tersebut didukung oleh deflasi harga aneka cabai. 

Di lain sisi, harga beras masih melanjutkan tren naik, meski dengan kenaikan yang mulai melandai. Pemerintah melalui Bulog telah memasok lebih banyak beras di pasar, sebagai respons terhadap tren kenaikan harga beras akibat produksi beras nasional yang menurun.

Selain beras, harga tahu tempe juga tercatat mengalami kenaikan seiring dengan naiknya harga kedelai global dan menipisnya stok domestik. Untuk itu, pemerintah melaksanakan impor kedelai guna menjaga stabilitas supply dalam negeri.

“Pemerintah akan terus menjaga stabilitas harga pangan, terutama menjelang momen Natal dan Tahun Baru (Nataru), untuk memastikan inflasi semakin terkendali,” ujarnya.

Sementara itu, inflasi harga diatur pemerintah atau administered price sedikit menurun menjadi 13,0 persen secara tahunan, dari 13,28 persen pada Oktober 2022. Ini didorong oleh normalisasi tarif angkutan udara.

Febrio menyampaikan, pemerintah kedepannya terus berupaya untuk menjaga daya beli masyarakat, dengan mengoptimalkan alokasi APBN dan APBD. 

Adapun pemerintah akan mempercepat penyaluran Belanja Wajib Perlindungan Sosial dan Belanja Tidak Terduga (BTT) agar mampu mengendalikan inflasi daerah. Selain itu, pemerintah pusat dan pemda akan terus melakukan monitoring terhadap harga dan stok pangan, serta ketersediaan armada penerbangan dalam mempersiapkan momen Natal dan Tahun Baru sebagai antisipasi tekanan inflasi menjelang akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks harga konsumen BPS Inflasi ekonomi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top