Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Luhut akan Bebaskan Bea Masuk dan PPN Bahan Baku Baterai Lithium Impor

Luhut menilai kebijakan pembebasan bea masuk dan PPN menjadi krusial untuk menambal sejumlah bahan baku baterai lithium.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 01 Desember 2022  |  11:47 WIB
Luhut akan Bebaskan Bea Masuk dan PPN Bahan Baku Baterai Lithium Impor
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Bisnis - Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah bakal membebaskan bea masuk dan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk bahan baku impor yang menunjang produksi baterai lithium di dalam negeri.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan langkah itu diambil untuk mempercepat pembentukan ekosistem baterai lithium di Indonesia dari sisi penambangan hingga hilir perakitan.

“Kita bangun ekosistem ini, kita tidak bangun satu-satu dengan berbagai mineral yang kita miliki dan kita impor sebagian mineral misalnya lithium,” kata Luhut saat peresmian pembukaan rapat koordinasi nasional investasi 2022 seperti disiarkan dari YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (30/11/2022).

Luhut mengatakan pemerintah telah menginisiasi industri terpadu lithium di kawasan Morowali, Sulawesi Tengah. Hanya saja, pabrik pengolahan itu masih bergantung pada impor bijih lithium dari Australia.

Menurutnya, kebijakan pembebasan bea masuk dan PPN itu menjadi krusial untuk menambal sejumlah bahan baku yang tidak ada di dalam negeri. Misalnya, dari sisi pertambangan, Indonesia tidak memiliki sumber daya lithium.

Selanjutnya, dari sisi midstream di tingkat pengilangan, Indonesia tidak memiliki bahan baku sodium karbonat, asam klorida dan agen ekstraksi. Sementara pada tahap hilirisasi lanjutan untuk pembuatan prekursor, industri domestik belum memiliki sodium hidroksida.

Adapun, pada tahap perakitan akhir baterai, Indonesia tidak memiliki separator, elektrolit, foil tembaga, aluminium foil.

“Investor yang masuk ke Indonesia tidak boleh kita hambat karena kalau salah satu tidak jadi itu akan memengaruhi suatu ekosistem yang kita buat,” ujarnya.

Saat ini, Indonesia tengah membangun smelter aluminium rendah karbon di Kalimantan Utara dengan total kapasitas produksi 500.000 ton. Di sisi lithium, pemerintah tengah mengajak sejumlah penambang lithium dari Australia untuk membangun kilang lithium di Indonesia.

Diberitakan sebelumnya, pemerintah melaporkan ekspor produk antara bahan baku baterai, Mix Hydroxide Precipitate (MHP) sudah mencapai US$1,72 miliar atau setara dengan Rp27,05 triliun, asumsi kurs Rp15.731, hingga akhir tahun ini.

Torehan ekspor itu naik 454,8 persen dari pencatatan sepanjang 2021 yang berada di angka US$0,31 miliar atau setara dengan Rp4,87 triliun.

Pertumbuhan ekspor produk antara bahan baku baterai listrik itu sudah jauh melewati catatan ekspor produk turunan nikel kadar tinggi, besi dan baja yang hanya mengalami kenaikan 10,54 persen pada periode yang sama.

Seperti diketahui, torehan ekspor besi dan baja pada tahun lalu berada di angka US$20,95 miliar atau setara dengan Rp329,56 triliun. Di sisi lain, torehan ekspor sepanjang 2022 naik tipis di kisaran US$23,16 miliar atau setara dengan Rp364,32 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Luhut Pandjaitan baterai lithium bea masuk Tarif PPN
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top