Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

McKinsey: RI Punya Potensi Besar Kembangkan Bisnis Penyimpanan Karbon

Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan secara bertahap ekosistem fasilitas penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau CCUS.
ilustrasi carbon capture, utilization and storage (CCUS)/freepik
ilustrasi carbon capture, utilization and storage (CCUS)/freepik

Bisnis.com, JAKARTA — Konsultan manajemen multinasional McKinsey and Company menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan secara bertahap ekosistem fasilitas penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilization and storage (CCUS) untuk industri domestik mendatang.

Partner and Co-Leader of Energy and Sustainability Practice McKinsey & Company Rajat Agarwal mengatakan, pengembangan CCUS di Indonesia dapat dilakukan pada tahap awal dengan menyediakan reservoir untuk sejumlah negara yang telah mapan pada mekanisme perdagangan karbon.

“Sejumlah industri besar di Jepang, Korea Selatan, atau Singapura yang lebih dekat tidak memiliki akses pada reservoir untuk memasukkan emisi mereka,” kata Rajat saat ditemui Bisnis di kantor McKinsey and Company, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Peluang reservoir itu, kata Rajat, dapat menjadi tahap awal pengembangan ekosistem CCUS di industri dalam negeri yang belum memiliki skema perdagangan karbon yang mapan. Alasannya, keekonomian proyek CCUS mesti disokong oleh skema perdagangan karbon untuk menutupi biaya investasi fasilitas penangkapan karbon yang besar tersebut.

“Indonesia dapat memulai rencana CCUS dengan menyediakan pelayanan penyimpanan secara global untuk negara-negara lain di mana harga karbon di negara itu sudah tinggi yang membuat keekonomian masuk akal,” tuturnya.

Berdasarkan catatan McKinsey and Company, potensi penyimpanan gas buang karbon dioksida (CO2) di Indonesia menyentuh angka 18 giga ton pada 2035 mendatang.

Dari jumlah itu, McKinsey and Company mengidentifikasi terdapat 3,7 giga ton potensi penyimpanan CO2 yang telah terbukti, sementara sisanya 8,3 giga ton yang belum terbukti.

“Analisa kami menunjukkan Indonesia dengan kondisi geografis yang sangat bagus dan Asia Pasifik akan mengambil porsi 60 hingga 70 persen kapasitas CCUS untuk jangka panjang hingga 2050 mendatang,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, terdapat 14 proyek fasilitas penangkapan, pemanfaatan dan penyimpanan karbon (CCS/CCUS) yang tengah dikembangkan di Indonesia dengan target operasi maksimal 2030 mendatang.

“Saat ini, terdapat 14 proyek CCS/CCUS di Indonesia, tetapi semuanya masih dalam tahapan studi persiapan, semuanya ditarget dapat operasi sebelum 2030,” kata Arifin saat membuka "The 46th IPA Convention & Exhibition" di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (21/9/2022).

Arifin menuturkan, salah satu proyek yang dapat segera diimplementasikan adalah Tangguh Enhanced Gas Recovery (EGR). Dia mengatakan, proyek itu ditargetkan dapat mengurangi buangan karbon sekitar 25 juta ton dengan ikut mengerek produksi di atas 300 BSCF sampai 2035 mendatang.

“Tangguh EGR/CCUS dapat menjadi percontohan dari pengembangan gas ke depan di Indonesia,” kata dia.

Saat ini, Arifin menambahkan, kementeriannya tengah mematangkan peraturan menteri terkait dengan CCS/CCUS tersebut. Pada tahap awal, fokus pematangan berkaitan dengan regulasi CCS/CCUS untuk Enhanced Oil Recovery, Enhanced Gas Recovery or Enhanced Coal Bed Methane dalam wilayah kerja minyak dan gas (migas).

“Kami masih memfinalisasi draf dan regulasi tersebut sebagai salah satu prioritas,” kata dia.

Adapun, ke-14 proyek pengembangan fasilitas CCS/CCUS itu tersebar dari Arun, Sakakemang, Central Sumatera Basin Hubs, Coal to DME+ yang dikembangkan Pertamina & Chiyoda Corp, Ramba, Gundih, East Kalimantan & Sunda Asri Basin Hubs, CCU to Metahnol RU V Balikpapan, Sukowati, Abadi, Blue Ammonia yang dikembangkan Panca Amara Utama bersama dengan Jogmec, Mitsubhisi & ITB, Tangguh.

Sementara terdapat dua lapangan yang masih studi lebih lanjut di kawasan Jawa Timur yang dikembangkan Pertamina dan Chevron dan fasilitas di Kalimantan Timur yang dikembangkan Kaltim Parna Industri bersama dengan ITB.

Saat ini, terdapat tiga potensi kerja sama CCS/CCUS. Pertama, pengembangan CCS/CCUS hub & clustering regional CO2 management di mana beberapa emisi dengan 'hub' sumber emisi CO2 yang terhubung dengan beberapa 'clustered' penyerap CO2 di suatu wilayah.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper