Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Ahli Tambang Sebut Alasan Pemerintah Bahas Moratorium Investasi Smelter RKEF Nikel

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mengatakan cadangan bijih nikel kadar tinggi saat ini relatif terbatas.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 21 November 2022  |  02:41 WIB
Ahli Tambang Sebut Alasan Pemerintah Bahas Moratorium Investasi Smelter RKEF Nikel
Ahli Tambang Sebut Alasan Pemerintah Bahas Moratorium Investasi Smelter RKEF Nikel
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli menyambut rencana pemerintah untuk menghentikan investasi baru pada pembangunan pabrik pirometalurgi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF).

Seperti diketahui RKEF menjadi lini hilir pengolahan bijih nikel kadar tinggi atau saprolite untuk kemudian menghasilkan baja nirkarat (stainless steel).

Rizal mengatakan cadangan bijih nikel kadar tinggi saat ini relatif terbatas dengan usia efektif di kisaran 10 tahun. Menurutnya, investasi pada pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter saprolite untuk menghasilkan bahan baku baja nirkarat terbilang intensif, sehingga menurunkan yang cadangan tersedia saat ini.

“Sudah cukup banyak smelter yang memproduksi bahan baku untuk stainless steel. Kebutuhannya juga tetap stabil untuk stainless steel karena memang dibutuhkan untuk konstruksi, alat kesehatan dan permesinan lainnya,” kata Rizal saat dihubungi, Minggu (20/11/2022).

Di sisi lain, Rizal mengatakan, bijih nikel kadar rendah masih belum tergarap secara optimal. Alasannya, investasi pada smelter hidrometalurgi untuk mengolah limonit sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik masih relatif terbatas.

Menurut dia, kebijakan moratorium itu bakal ikut mengalihkan investasi smelter berteknologi RKEF pada pabrik pengolahan nikel kadar rendah. Dengan demikian, pengembangan hilir baterai kendaraan listrik dapat lebih agresif mendatang.

“Beberapa perusahaan sedang dalam tahap pembangunan refinery untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP) yang nantinya akan digunakan sebagai bahan baku baterai kendaraan listrik,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) tengah menyusun kebijakan pemberhentian atau moratorium investasi baru pada pembangunan pabrik pirometalurgi Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF) yang menjadi lini hilir pengolahan bijih nikel kadar tinggi atau saprolite untuk kemudian menghasilkan stainless steel.

Kebijakan moratorium itu juga akan diikuti dengan penyesuaian corrective factor (CF) untuk harga patokan mineral (HPM) bijih nikel kadar tinggi. Harapannya, terjadi peralihan konsumsi bahan baku untuk pabrik pengolahan nikel pada limonit.

Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Irwandy Arif mengatakan manuver itu diambil untuk meningkatkan investasi baru pada pabrik hidrometalurgi yang mengolah lebih lanjut bijih nikel kadar rendah atau limonit menjadi baterai kendaraan listrik hingga panel surya.

“Pak Menko Luhut sudah berbicara dengan Menteri ESDM dan Menperin supaya arah stainless steel yang memakan nikel kadar tinggi itu supaya dibatasi saja,” kata Irwandy saat diskusi daring, Jumat (18/11/2022).

Irwandy mengatakan kementeriannya bersama Kementerian Perindustrian tengah membahas intensifikasi hilirisasi dari bijih nikel kadar rendah tersebut seiring dengan rencana pemberhentian investasi baru pada pabrik berbasis teknologi RKEF penghasil stainless steel mendatang.

Di sisi lain, dia mengatakan, rencana moratorium itu masih terus dimatangkan selepas rapat awal yang telah dimulai sejak awal 2021.

“Awal tahun lalu sudah ada rapat internal ya, Rapim secara khusus perindustrian dan pertambangan, tapi harus didorong lagi supaya lebih maju,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Nikel Smelter Nikel smelter investasi baja
Editor : Yustinus Andri DP
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top