Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV/2022 Diproyeksi Melambat, Ini Penyebabnya

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2022 diproyeksi akan melambat dari capaian pertumbuhan yang tinggi pada kuartal sebelumnya.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 08 November 2022  |  17:38 WIB
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV/2022 Diproyeksi Melambat, Ini Penyebabnya
Suasana deretan gedung bertingkat di Jakarta, Minggu (6/3/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV/2022 diproyeksi akan melambat dari capaian pertumbuhan yang tinggi pada kuartal sebelumnya.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menyampaikan salah satu faktor yang mempengaruhi ekonomi pada kuartal IV adalah sudah berakhirnya low based effect, mengingat pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2021 mencapai 5,02 persen.

“Di kuartal IV saya kira memang low base effect-nya sudah hilang, itu akan mengurangi pula potensi pertumbuhan ekonomi kita di kuartal IV/2022 tahun ini,” katanya, Selasa (8/11/2022).

Di samping itu, faktor lainnya yang mempengaruhi adalah kenaikan harga konsumsi. Laju inflasi tercatat tinggi pada September 2022 dan berlanjut pada Oktober, meski pada November diperkirakan ada moderasi dan sedikit melambat.

“Dengan situasi ini, akan mengurangi potensi konsumsi yang lebih rendah dibanding kuartal III/2022,” jelasnya.

Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2022 akan mencapai 5,3 persen, cukup moderat, lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada kuartal III/2022 yang sebesar 5,72 persen.

Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2022 diperkirakan akan mencapai 5,1 persen.

Tauhid menambahkan, untuk mengatasi potensi perlambatan pada kuartal IV/2022 tersebut, pemerintah perlu mempercepat belanja modal dan belanja barang yang hingga Oktober 2022 masing-masing baru mencapai 66,44 persen dan 66,83 persen. 

“Perlu ada terobosan memanfaatkan waktu yang sempit dengan memanfaatkan beragam momentum hingga akhir tahun 2022,” kata dia.

Selain itu, Bank Indonesia dinilai perlu melakukan penyesuaian suku bunga acuan secara moderat mengikuti perkembangan inflasi yang terjadi serta dinamika kondisi ekonomi global agar laju kredit ke sektor riil tetap meningkat.

Lebih lanjut, perlu dilakukannya penguatan pasar domestik untuk berbagai produk-produk yang memiliki daya saing di pasar global serta mempercepat industri substitusi impor di tengah menguatnya arus importasi beragam produk industri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi pdb indef
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top