Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Parah! Bank of England Sebut Inggris Sudah Resesi, Baru Bisa Pulih di 2024

Bank sentral Inggris mengatakan Inggris telah masuk ke dalam resesi pada kuartal III/2022 karena tertekannya pendapatan rumah tangga.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 03 November 2022  |  20:54 WIB
Parah! Bank of England Sebut Inggris Sudah Resesi, Baru Bisa Pulih di 2024
Ilustrasi krisis keuangan global - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bank of England (BOE) memperingatkan bahwa ekonomi Inggris telah jatuh ke dalam resesi dan baru akan pulih dua tahun mendatang.

Dilansir dari The Guardian pada Kamis (3/11/2022), bank sentral Inggris ini mengatakan Inggris telah masuk ke dalam resesi pada kuartal III/2022 karena tertekannya pendapatan rumah tangga.

BOE memperingatkan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) akan terus turun sepanjang tahun 2023 dan bahkan pada paruh pertama tahun 2024 karena harga energi yang tinggi dan kondisi keuangan yang lebih ketat membebani pengeluaran.

“Proyeksi terbaru MPC menggambarkan prospek ekonomi Inggris yang sangat menantang. Diperkirakan akan berada dalam resesi untuk waktu yang lama dan inflasi akan tetap tinggi di atas 10 persen dalam waktu dekat,” demikian menurut pernyataan BOE seperti dilansir The Guardian.

Pengangguran diperkirakan akan meningkat hingga mendekati 6,5 persen pada akhir 2025 dari level 3,5 persen saat ini.

Peringatan ini disampaikan setelah BOE menaikkan suku bunga acuan sebesar sebesar 75 basis poin menjadi 3 persen, level tertinggi sejak 14 tahun. Kenaikan 75 basis poin juga merupakan yang paling agresif sejak 33 tahun terakhir.

Gubernur BOE Andrew Bailey mengatakan bahwa keputusan bank sentral menaikkan suku bunga ini karena inflasi terlalu tinggi, dan ini sudah menjadi tugas BOE untuk menurunkannya.

“Inflasi yang rendah dan stabil adalah landasan ekonomi yang stabil,” kata Bailey.

Dia mengatakan masalah rantai pasokan setelah pandemi, perang Ukraina, dan menyusutnya tenaga kerja telah memicu lonjakan harga. Bailey juga memperingatkan bahwa inflasi akan lebih buruk daripada angka resmi 10,1 persen karena harga kebutuhan pokok telah meningkat lebih banyak.

Di sisi lain, Bailey mengatakan suku bunga acuan tidak akan naik sebanyak yang diperkirakan pasar dan ekonom. Itu berarti bahwa suku bunga pinjaman dengan tenor tetap tidak perlu naik sebanyak yang telah dilakukan sebelumnya.

“Kami tidak dapat menjanjikan suku bunga di masa depan, tetapi berdasarkan posisi kami hari ini, kami pikir Bank Rate akan naik di bawah proyeksi pasar keuangan saat ini,” ungkap Bailey.

Dia menjelaskan bahwa perkiraan BOE didasarkan pada puncak siklus kenaikan suku bunga acuan di 5,25 persen pada kuartal kedua tahun 2023.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suku bunga acuan inggris ekonomi inggris
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top