Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Lagi-Lagi, Kemenkeu Ingatkan Risiko Ekonomi 2023

Kendati demikian pada kuartal III/2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan menguat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 30 Oktober 2022  |  19:10 WIB
Lagi-Lagi, Kemenkeu Ingatkan Risiko Ekonomi 2023
Ilustrasi resesi ekonomi global 2023 - Freepik
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kembali mengingatkan risiko perekonomian pada 2023. Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini akan tumbuh lebih kuat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyampaikan bahwa ekonomi pada periode tersebut berpotensi tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal II/2022 yang tercatat sebesar 5,44 persen secara tahunan.

“Kuartal III ini kita lihat peluang akan lebih kuat lagi dari kuartal II, angka terakhir dari kami itu [diperkirakan tumbuh] 5,7 persen,’ katanya, Jumat (30/10/2022).

Pada kesempatan yang sama, Febrio juga menyampaikan bahwa terdapat sejumlah risiko yang membayangi perekonomian secara global yang perlu terus diwaspadai pada tahun depan, mengingat ketidakpastian yang sangat tinggi.

“Mulai dari kita masih harus menjaga kesehatan. Kedua, kita dihadapkan pada harga yang masih bergejolak terkait geopolitik, dan tidak kalah penting kita masih harus memperhatikan risiko perubahan iklim,” jelasnya.

Dalam rangka mengantisipasi sejumlah risiko tersebut, Febrio mengatakan, pemerintah pun menghitung secara cermat terkait penetapan APBN untuk tahun depan, salah satunya pendapatan negara yang ditargetkan konservatif.

Tahun ini penerimaan perpajakan akan di atas Rp2.000 triliun. Kita tidak mau gegabah. Kita harus siap dengan skenario di mana harga komoditas mungkin tidak akan setinggi itu lagi di tahun 2023. Maka kita harus disiapkan bagaimana APBN tetap antisipatif,” tuturnya.

Di sisi lain, belanja negara juga akan dilakukan secara hati-hati dan akan diarahkan untuk bisa melindungi masyarakat khususnya miskin dan rentan.

“APBN harus berperan sebagai shock absorber yang sangat kuat di tahun 2023. Harganya mahal. Jadi di satu sisi pendapatan kita harus konservatif, di sisi belanja juga harus kita siapkan dengan baik," kata Febrio.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa risiko resesi global pada 2023 sangatlah jelas dan dunia berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. 

Dia menyampaikan bahwa prospek ekonomi global tahun depan gelap karena diliputi oleh ketidakpastian yang sangat tinggi. 

“Itu yang disebutkan gelap, kalau saya mengatakan begitu dianggap menakut-nakuti, tapi sebetulnya tidak, hanya ingin menyampaikan bahwa risiko itu sangat ada,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian keuangan Pertumbuhan Ekonomi sri mulyani Resesi
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top