Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sewindu Jokowi, Begini Refleksi Ekonom Soal Performa Industri Manufaktur

Selama sewindu pemerintahan Jokowi, masih terdapat tiga masalah utama yang mesti dibenahi terkait kinerja industri manufaktur di dalam negeri.
Presiden Joko Widodo memberikan arahan saat memimpin rapat kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/6/2022). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
Presiden Joko Widodo memberikan arahan saat memimpin rapat kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/6/2022). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA - Selama sewindu pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), masih terdapat sejumlah catatan terkait dengan kinerja industri manufaktur di dalam negeri. 

Ekonom Celios Bhima Yudhistira mencatat terdapat tiga masalah utama yang mesti dibenahi ke depannya oleh pemerintah guna memastikan kinerja industri tidak terperosok dan kembali menyentuh level terendah sepanjang sejarah seperti pada April 2020. Pada saat itu, indeks manufaktur Indonesia mencapai titik terendahnya, yakni 27,5 poin. Turun tajam dari bulan sebelumnya di mana indeks manufaktur berada di level 45,3 poin. Lalu, apa saja hal yang menjadi catatan?

Pertama, pemerintah mesti meningkatkan konsumsi rumah tangga yang selama sewindu terakhir dinilai tidak lepas dari nilai rata-rata 5 persen. Padahal, konsumsi rumah tangga merupakan indikator penting bagi kinerja manufaktur.

"Bagi negara berkembang yang cukup besar seperti Indonesia, itu capaian yang rendah," kata Bhima ketika dihubungi, Kamis (20/10/2022).

Kedua, pemerintah mesti mencari cara untuk menekan tingginya biaya impor bahan baku. Sebab, menurut Bhima, sampai dengan saat ini sebagian besar industri manufaktur masih menggunakan bahan baku impor. Salah satu sektor yang sangat bergantung dengan barang impor adalah farmasi. Impor bahan baku di sektor tersebut masih pada kisaran 90 persen.

Ketiga, pemerintah diminta menghilangkan gap antara pembangunan infrastruktur yang masif dengan biaya logistik dan pengembangan industri yang dinilai masih mahal. Saat ini, jelas Bhima, biaya logistik di Indonesia masih 23,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Apabila melihat data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia periode 2015 hingga tahun berjalan 2022, performa industri di Tanah Air bisa dikatakan melewati masa yang cukup berat sebelum akhirnya bisa cukup stabil bertengger di zona ekspansi.

Sepanjang 2015, PMI manufaktur Indonesia gagal menembus zona ekspansi selama setahun penuh. Tahun berikutnya, PMI manufaktur mulai membaik dan berhasil mencapai zona ekspansi di kisaran 50,4 - 50,9 poin.

Pada 2017, kinerja manufaktur Indonesia tidak menunjukkan perbaikannya berarti. Dari 12 bulan, hanya 6 bulan PMI manufaktur RI berhasil berada di zona ekspansi.

Namun, pada 2018 menjadi titik balik bagi industri manufaktur. Kendati sempat berada di luar zona ekspansi pada Januari, PMI manufaktur mulai Februari hingga Desember 2018 selalu berada di zona ekspansi dengan kisaran 50,3 - 51,9 poin. Sayangnya, tren tersebut hanya berlangsung hingga pertengahan 2019. Mulai Juli hingga Desember 2019, PMI manufaktur RI keluar dari zona ekspansi dengan capaian di kisaran 47,7 - 49,6 poin.

Memasuki 2020, kondisi sektor manufaktur RI kian parah seiring dengan mulai terjadinya pandemi Covid-19 yang disusul dengan berbagai macam pembatasan, termasuk pembatasan terhadap sektor industri. Bahkan, PMI manufaktur Indonesia sempat anjlok hingga ke level 27,5 poin pada April 2020. Capaian itu merupakan rekor terendah indeks manufaktur nasional sepanjang sejarah.

Memasuki 2021, performa sektor manufaktur RI mulai menunjukkan geliat. Sepanjang tahun, hanya pada Agustus dan September PMI manufaktur berada di bawah zona ekspansi.

Sementara itu, sepanjang 2022 berjalan, yakni September, sektor manufaktur nasional berhasil menunjukkan kinerja yang cukup apik. Sepanjang tahun ini, PMI manufaktur stabil di zona ekspansi meskipun ada kekhawatiran inflasi bakal menurunkan kinerja industri hingga akhir tahun.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper