Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Inggris di Ambang Resesi! Ekonomi Terkontrasi 0,3 Persen pada Agustus

Kantor Statistik Nasional Inggris mencatat produk domestik bruto (PDB) terkontraksi 0,3 persen pada Agustus 2022 dibandingkan bulan sebelumnya.
Bendera Inggris./Bloomberg
Bendera Inggris./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi di Inggris secara tak terduga terkontraksi pada bulan Agustus untuk kedua kalinya dalam tiga bulan beturut-turut. Hal ini menjadi tanda kemungkinan negara jatuh ke dalam resesi.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (12/10/2022), Kantor Statistik Nasional Inggris mencatat produk domestik bruto (PDB) terkontraksi 0,3 persen pada Agustus 2022 dibandingkan bulan sebelumnya (month-on-month/mom).

Adapun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), PDB Inggris naik 2 persen, di bawah proyeksi 2,4 persen dan lebih rendah dibandingkan bulan sebelymnya yang mencapai 3,1persen.

Kontraksi PDB di bulan Agustus ini terjadi akibat penurunan di sektor manufaktur dan kontraksi sektor jasa.

Penurunan ini berarti ekonomi Inggris membutuhkan keberuntungan untuk menghindari resesi pada kuartal ketiga, menandai dimulainya tekanan biaya hidup yang diantisipasi banyak analis akan bertahan hingga bulan-bulan awal 2023.

Kepala ekonom di KPMG UK YaelSelfin mengatakan ekonomi Inggris tertatih-tatih di tepi jurang resesi.

"Prospek Bank of England menaikkan suku bunga acuan lebih tinggi dan kekhawatiran tentang pasar perumahan yang goyah dapat membuat PDB turun sebanyak 1,6 persen pada tahun 2023." jelasnya.

Hal ini juga dikomentari oleh ekonom Bloomberg Economics Ana Luis Andrade. Menurutnya, penurunan PDB yang terlihat pada Agustus hanyalah puncak gunung es bagi ekonomi Inggris, yang mungkin memasuki resesi berkepanjangan.

"Penurunan tampak nyata selama musim dingin dan kenaikan suku bunga yang cepat mengintensifkan tekanan pada anggaran rumah tangga. Namun, kebutuhan untuk menanggapi dorongan inflasi dari paket fiskal pemerintah dan untuk menopang kepercayaan pada aset Inggris akan berbicara lebih keras untuk Bank of England," jelasnya.

Dia memperkirakan kenaikan suku bunga 100 basis poin terjadi pada bulan November.

Sementara itu, Menteri Keuangan INggris Kwasi Kwarteng menyalahkan serangan Presiden Rusia Vladimir Putin di Ukraina sebagai faktor terbesar yang menyeret ekonomi Inggris.

“Negara-negara di seluruh dunia sedang menghadapi tantangan saat ini, terutama sebagai akibat dari harga energi yang tinggi yang didorong oleh tindakan barbar Putin di Ukraina,” katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper