Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

PTFI: Setoran ke Pemerintah RI Bisa Capai US$80 Miliar hingga 2041

PT Freeport Indonesia memperkirakan dapat menyetor manfaat langsung kepada pemerintah RI senilai US$80 miliar atau setara Rp1.218 triliun hingga 2041.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 04 Oktober 2022  |  17:07 WIB
PTFI: Setoran ke Pemerintah RI Bisa Capai US$80 Miliar hingga 2041
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas (dua-kiri) bersama dengan Rektor ITS Mochamad Ashari (dua-kanan) menandatangani nota kesepahaman (MoU) disaksikan oleh Menteri Investasi Bahlil Lahadalia (paling kiri) dan Chairman of the Board and CEO Freeport McMoRan Richard C. Adkerson (paling kanan) di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, Selasa (4/10 - 2022). Nyoman Ary Wahyudi
Bagikan

Bisnis.com, YOGYAKARTA--PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan dapat menyetor manfaat langsung ke kas negara mencapai US$80 miliar atau setara dengan Rp1.218 triliun (kurs Rp15.230) hingga 2041 mendatang. Perkiraan angka setoran tersebut berdasarkan asumsi harga tembaga US$4 dan harga emas berada di kisaran US$1.800 saat itu.

Chairman of the Board and CEO Freeport McMoRan Richard C. Adkerson mengatakan, PTFI telah membuktikan setoran ke negara yang cukup besar di angka US$23,1 miliar atau setara dengan Rp351,81 miliar sepanjang 1992 hingga 2021 lalu. Setoran itu berasal dari penerimaan pajak, royalti, dividen, dan pembayaran lainnya.

“Ke depan dengan operasi yang makin luas dan pasar tembaga yang makin kondusif kami pikir untuk 20 tahun mendatang setidaknya dapat memberikan sedikitnya US$80 miliar untuk manfaat langsung ke negara,” kata Richard saat memberikan orasi ilmiah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Selasa (4/10/2022).

Di sisi lain, PTFI telah mengalokasikan investasi tambahan mencapai US$18,6 miliar atau setara dengan Rp283,76 triliun terkait dengan pengembangan tambang dan hilirisasi tembaga milik perseroan untuk periode 2021 hingga 2041 mendatang.

Investasi yang relatif besar itu dilakukan setelah perhitungan cadangan bijih milik perseroan diproyeksikan masih dapat ditambang hingga 2052 mendatang. Bahkan, PTFI memperkirakan potensi sumber daya bijih yang dapat dikembangkan dari operasi tambangnya di Papua berada di kisaran 3 miliar ton.

“Grasberg makin hari makin besar itu sebuah kesempatan. Kami juga punya sumber daya yang melampaui cadangan terbukti, kami harus tetap melakukan pengeboran untuk membuktikan cadangan yang mungkin kami temukan, itu kesempatan yang baik,” kata dia.

Secara khusus, dia turut menilai positif proses divestasi kepemilikan saham Freeport pada 2018 lalu yang menyepakati porsi kepemilikan saham mayoritas 51,2 persen dipegang oleh partisipasi domestik. Perinciannya 26,24 persen saham PTFI saat ini dipegang PT Inalum (Persero), 25 persen dimiliki PT Indonesia Papua Metal dan Mineral (IPMM), dan sisanya Freeport McMoRan.

Saat ini, dia menambahkan, pemerintah bersama dengan Freeport McMoRan mulai melihat kesuksesan besar pada lahan tambang tembaga tersebut.

“Ini suatu hal yang kalian harus bangga, coba anda pergi ke Chili, Peru, Amerika Serikat tidak ada hal yang sama terjadi seperti sekarang dicapai PTFI sekarang. Kami menambang di bawah tanah mengebor dan memproses konsentrat tembaga di smelter, hilir,” kata dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengatakan nilai tambah dari program hilirisasi produk tambang mentah belakangan sudah menunjukkan hasil yang positif. Selain neraca dagang yang berbalik positif dengan sejumlah mitra kuat, pendapatan negara dari sektor pertambangan juga makin besar pada tahun ini.

Jokowi memastikan nilai tambah itu berpotensi untuk terus tumbuh seiring dengan target sejumlah pembangunan pabrik pemurnian dan pengolahan mineral logam atau smelter besar yang diharapkan rampung pada 2024.

Misalkan, Jokowi mencontohkan, pengerjaan untuk smelter konsentrat tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur yang pengerjaannya belakangan dipercepat selepas pelandaian pandemi tahun ini.

“Setelah Gresik beroperasi akan kelihatan berapa nilai tambah dari copper yang sudah lebih dari 50 tahun kita ekspor mentahan, begitu juga dengan bauksit akan muncul angka-angka di atas US$30 miliar entah dari nikel, tembaga bauksit saya pastikan itu,” kata Jokowi dalam sarasehan 100 Ekonom Indonesia, Jakarta, Rabu (7/9/2022).

Potensi hilirisasi yang masih prospektif itu, kata Jokowi, turut berdampak positif pada kinerja neraca perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara besar seperti India, China hingga Amerika Serikat. Misalkan untuk China, dia mengatakan, neraca dagang Indonesia sempat defisit hingga US$13 miliar pada 2014 lalu. Belakangan, neraca dagang dengan China menciut di angka US$2,4 miliar pada 2021.

Sementara itu, neraca dagang Indonesia dengan Amerika Serikat malahan dipastikan mengalami surplus yang makin besar pada tahun ini lewat intensifikasi hilirisasi mineral logam mentah tersebut. Dia memastikan neraca perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat sudah surplus di angka US$14,4 miliar pada pertengahan tahun ini.

“Tahun ini kita pastikan sudah surplus dengan RRT [China] karena raw material yang sudah tidak diekspor dengan Amerika juga sama dulu surplus kita di 2014 US$3,3 miliar sekarang US$14,4 miliar,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

freeport indonesia ptfi pertambangan
Editor : Denis Riantiza Meilanova
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top