Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kenaikan Suku Bunga ECB Gerus Pertumbuhan Ekonomi

European Central Bank (ECB) memprediksi inflasi makin tinggi dan pertumbuhan makin tergerus seiring dengan keputusan kenaikan suku bunga tertinggi.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 09 September 2022  |  14:39 WIB
Kenaikan Suku Bunga ECB Gerus Pertumbuhan Ekonomi
Kanptr pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman - Reuters/Alex Domanski
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - European Central Bank (ECB) memprediksi inflasi akan memanas dan pertumbuhan makin terkikis seiring dengan keputusan kenaikan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin pada Kamis (8/9/2022).

Dilansir Bloomberg, pertumbuhan ekonomi kawasan Uni Eropa mencapai 0,9 persen pada tahun depan, masih lebih optimistis daripada median dari prediksi yang dikumpulkan oleh Bloomberg sebesar 0,7 persen. Bahkan, Bloomberg Economics memperkirakan pertumbuhan hanya mencapai 0,4 persen.

Seperti diketahui, bank sentral di Benua Biru ini memutuskan mengerek suku bunga deposito menjadi sebesar 0,75 persen dari 0,0 persen. Adapun suku bunga main refinancing operations naik menjadi 1,25 persen dari sebelumnya 0,5 persen. Bank sentral kembali mengerek suku bunga setelah kenaikan Juli sebesar 50 basis poin.  

Dengan suku bunga deposito di atas nol, ECB juga berarti mengakhiri sistem yang disebut tiering yang diatur oleh para pejabat pada akhir 2019 untuk melunakkan efek kebijakan moneter negatif pada bank.

Keputusan pada Kamis menyoroti bagaimana ECB didorong oleh kenaikan inflasi bulan lalu yang menyentuh 9,1 persen, lebih dari empat kali lipat dari target.

ECB memprediksi inflasi menjadi 8,1 persen pada tahun ini sebelum akhirnya mendingin secara perlahan menjadi 5,5 persen pada 2023 dan 2,3 persen pada 2024.

Biaya pinjaman yang lebih tinggi tidak mungkin menumpulkan harga energi yang melonjak. Kondisi kemungkinan akan memburuk setelah Rusia menghentikan pasokan gas alam melalui pipa utamanya.

Namun, yang perlu dikhawatirkan adalah bahwa ekspektasi inflasi dapat berputar tanpa kenaikan agresif yang akan makin menyulitkan untuk diberlakukan ketika ekonomi Eropa terperosok.

Guncangan makin menekan setelah Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez memperingatkan pengetatan moneter harus dilakukan beriringan dengan kondisi pemulihan ekonomi.

Seiring dengan krisis biaya hidup yang melemahkan permintaan, analis memperkirakan resesi di kawasan euro akan dimulai pada tahun ini. Beberapa analis bahkan mengatakan penurunan sedang berlangsung sekarang.

Prospek ekonomi Jerman, ekonomi terbesar di benua itu, makin suram karena ketergantungannya yang besar pada Kremlin untuk energi. Meskipun telah memenuhi fasilitas penyimpanan gas lebih cepat dari yang ditargetkan, itu tidak akan cukup untuk memenuhi penjatahan selama musim dingin.

Namun, ketika Chief Executive Officer Deutsche Bank AG Christian Sewing telah memperingatkan resesi akan datang, Presiden Bundesbank Joachim Nagel lebih memilih untuk memprioritaskan meredam inflasi daripada pertumbuhan ekonomi.

Suku bunga yang lebih tinggi mungkin menawarkan beberapa dukungan untuk euro, yang penurunannya di bawah paritas dengan dolar telah membuat impor, terutama komoditas, lebih mahal. Pada bulan Juli, pejabat ECB "secara luas mencatat" bahwa depresiasi euro merupakan "perubahan penting" dan "menyiratkan tekanan inflasi yang lebih besar," menurut laporan pertemuan itu.

Lagarde menegaskan bahwa ECB tidak menargetkan nilai tukat di tingkat tertentu. Namun dia mengatakan ECB sangat memperhatikan situasi mata uang.

Ekonom yang disurvei oleh Bloomberg menganggap ECB akan menaikkan suku bunga deposito hingga mencapai 1,5 persen. Analis melihat suku bunga "netral" tidak akan merangsang atau membatasi pertumbuhan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ecb Suku Bunga uni eropa
Editor : Nindya Aldila
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top