Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Suku Bunga BI Naik, Apersi Ungkap Dampak ke Pembiayaan KPR

Kenaikan suku bunga BI menjadi 3,75 persen dinilai belum memberikan efek berarti dalam waktu dekat ke skema pembiayaan KPR.
Afiffah Rahmah Nurdifa
Afiffah Rahmah Nurdifa - Bisnis.com 23 Agustus 2022  |  21:50 WIB
Suku Bunga BI Naik, Apersi Ungkap Dampak ke Pembiayaan KPR
Suasana proyek pembangunan perumahan subsidi di kawasan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (2/7/2022). Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Suku bunga Bank Indonesia (BI) dinaikkan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen. Hal ini akan berdampak pada pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR), namun tidak begitu signifikan.

Sekretaris Jenderal DPP Apersi Daniel Djumali menilai kenaikan suku bunga acuan 25 bps tidak memberikan efek berarti dalam waktu dekat ini. Menurutnya, dampak besar akan terasa jika kenaikan mencapai 1 persen.

"Kalau masih 25 bps masih belum (berdampak), tapi kalau sampai 1 persen sih agak lumayan. Jika dibandingkan dengan 2-3 tahun lalu, ini masih lebih bagus karena masih menguntungkan, masih termasuk rendahlah dengan kenaikan segitu," kata Daniel saat dihubungi Bisnis, Selasa (23/8/2022).

Daniel memperkirakan jika dinaikkan sampai satu persen, maka dalam waktu dekat bunga deposito pasti naik, bunga pinjaman juga pasti naik. Kondisi saat ini disebutnya masih terbilang stabil, justru cenderung menguntungkan.

Di sisi lain, dia tak memungkiri akan ada efek meski tidak akan begitu besar dalam waktu dekat. Justru, pembeli rumah komersil atau non subsidi dengan pembiayaan KPR saat ini akan diuntungkan.

"Yang beli sekarang ini diuntungkan karena bunga nya masih bunga yang lama dan juga bunga KPR itu naiknya pelan-pelan, mungkin sebulan atau setelah itu," tambahnya.

Daniel menyarankan para calon pembeli rumah yang ingin menggunakan skema pembayaran KPR untuk segera melakukannya sekarang. Transaksi KPR di bulan ini masing menguntungkan dengan banyaknya promo bunga rendah.

"Yang transaksi KPR di bulan-bulan ini bisa menguntungkan tuh, time to buy. karena dia ga akan dapat lagi bunga semurah seperti sekarang kedepannya," terangnya.

Dia meyakini akan terjadi kenaikan bunga KPR di 3-4 bulan mendatang. Lain halnya pada rumah subsidi yang diyakini tidak akan ada masalah sebab bunga sudah dipatok oleh pemerintah.

Untuk saat ini, efek kenaikan suku bunga BI tidak besar. Hal ini dia lihat dari pengalaman beberapa waktu lalu ketika terjadi penurunan suku bunga, namun bunga KPR pun tidak turun begitu banyak.

"Jadi sekarang ini waktunya membeli rumah komersil, karena bunga dari bank-bank itu lagi bagus sekali dan mungkin dalam 3-4 bulan ke depan belum tentu harga sebagus ini," kata Daniel.

Daniel lebih mengkhawatirkan jika kenaikan terjadi pada harga bahan bakar minyak (BBM). Apabila kondisi tersebut terjadi, maka dampaknya akan lebih terasa di kalangan pengembang.

"Nah kalau Pertalite atau BBM dinaikkan, itu pengaruhnya cukup lumayan, tergantung berapa persen kenaikannya," ujarnya.

Masalah utama yang saat ini menjadi concern para pengembang yaitu kenaikan harga minyak yang berdampak pada ongkos pengiriman bahan material hingga produksi.

Ditambah, saat ini harga rumah subsidi belum disesuaikan di tengah kenaikan berbagai harga bahan material bangunan. Tahun lalu, harga beton naik hingga 90 persen, hal tersebut memicu kenaikan pada bahan lain seperti alumunium, baja ringan, dan lainnya.

"Kalau emang ada kenaikan itu, harusnya pemerintah sudah siap siap untuk harga rumah subsidi disesuaikan dari sekarang," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Mia Chitra Dinisari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top