Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ketegangan China-Taiwan, BRIN Kaji Bahan Baku Alternatif Industri

Imbas ketegangan China dan Taiwan terhadap industri farmasi, tekstil, dan kimia bakal menghambat pasokan bahan baku. Industri butuh bahan baku alternatif.
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 09 Agustus 2022  |  17:43 WIB
Ketegangan China-Taiwan, BRIN Kaji Bahan Baku Alternatif Industri
Ilustrasi Industri Farmasi - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA- Pemerintah dan sejumlah asosiasi di industri kimia, farmasi, dan tekstil sedang memutar otak mencari cara untuk mengantisipasi terhambatnya pasokan bahan baku akibat konflik China - Taiwan.

Plt Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Ignatius Warsito mengatakan pemerintah dan asosiasi terkait mencari kebijakan yang pas apabila hal itu terjadi.

"Kami mengevaluasi dan mencari kebijakan yang akan kami gunakan untuk menyiasati apabila pasokan bahan baku terhambat," ujarnya ketika ditemui di Serang, Selasa (9/8/2022).

Selain itu, sambungnya, pemerintah dan pelaku industri melakukan upaya business matching antara pasokan yang nantinya benar-benar tidak dapat dipasok ke dalam negeri dengan bahan baku alternatif.

Pada industri farmasi, misalnya, ada 4 tipikal basis bahan baku yang bisa dijadikan alternatif meliputi bahan kimia, herbal, vaksin, dan bahan bio teknologi.

"Hal itu sedang dikembangkan bersama-sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional [BRIN]," sambungnya.

Mengutip data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), nilai impor bahan baku untuk industri kimia, farmasi, dan tekstil sampai dengan Juni 2022 tercatat mengalami kenaikan.

Untuk industri kimia, tercatat nilai impor mencapai US$2,69 miliar atau naik 18,82 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun, volume impor industri kimia pada Juni 2022 turun sebesar 5,04 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya dengan jumlah sebanyak 2,02 juta ton.

Sementara itu, industri tekstil mencatat nilai impor mencapai US$734,68 juta atau naik 7,95 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Volume impor industri tekstil pada Juni 2022 naik sebesar 1,54 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya dengan jumlah lebih dari 246.000 ton.

Sebaliknya, industri farmasi mencatat nilai impor mencapai US$168,22 juta atau anjlok 49,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Namun, volume impor industri farmasi pada Juni 2022 justru naik sebesar 143,50 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya dengan jumlah lebih dari 16.000 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top