Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inggris Resmi Resesi, Risiko Stagflasi Kian Menghantui

Perekonomian Inggris resmi resesi dengan risiko stagflasi yang mengantui warga di negara tersebut.
Feni Freycinetia Fitriani
Feni Freycinetia Fitriani - Bisnis.com 03 Agustus 2022  |  08:21 WIB
Inggris Resmi Resesi, Risiko Stagflasi Kian Menghantui
Lalu lintas pejalan kaki di Inggris - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Inggris resmi masuk ke jurang resesi lantaran kenaikan biaya hidup telah menghancurkan pendapatan rumah tangga warga di negara tersebut,

Survey yang dilakukan lembaga think tank National Institute of Economic and Social Research (NIESR) menyebutkan rata-rata pendapatan nyata yang dapat dibelanjakan akan turun 2,5 persen. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya tahun ini dan tetap 7 persen di bawah tingkat sebelum pandemi Covid hingga 2026.

"Ekonomi Inggris sedang menuju ke periode stagflasi dengan inflasi tinggi dan resesi memukul ekonomi secara bersamaan," kata Stephen Millard, wakil direktur makroekonomi NIESR seperti dikutip Bloomberg, Rabu (3/8/2022).

Diperkirakan jumlah rumah tangga yang hidup dari gaji ke gaji hampir dua kali lipat menjadi 7 juta pada 2024. Angka tersebut termasuk 5,3 juta rumah tangga yang tidak memiliki tabungan sama sekali.

NIESR menyebutkan warga golongan tersebut akan dipaksa untuk berutang atau menunggak karena tagihan energi yang melonjak memakan pendapatan.

Peringatan resesi, yang menurut NIESR dimulai pada kuartal II/2022 dan akan berlanjut hingga awal 2023, merupakan pengingat nyata dari tantangan yang dihadapi kedua kandidat yang bersaing untuk menggantikan Boris Johnson sebagai perdana menteri.

Para ekonom mengatakan kedalaman krisis akan memaksa pemerintah untuk merespons dan menyarankan tujuan yang ditetapkan diperlukan, alih-alih pendekatan manajemen keuangan di masa lalu.

Kondisi ini juga menandai perhitungan yang menunjukkan kesenjangan ekonomi antara London dan seluruh Inggris semakin melebar. Itu menunjukkan bahwa kebijakan utama pemerintah untuk "menaikkan level" daerah yang kekurangan secara finansial telah gagal.

Lembaga think tank tersebut menyarankan yang paling rentan di Inggris membutuhkan bantuan lebih lanjut dalam menghadapi inflasi harga konsumen yang dikatakan akan naik hampir 11 persen tahun ini.
Inflasi harga eceran, untuk ukuran yang lebih luas yang digunakan untuk menetapkan kenaikan tarif kereta api dan biaya bunga pemerintah, akan mencapai 17,7 persen atau tertinggi sejak 1980.

Sebagai tanggapan, Millar melihat Bank of England menaikkan suku bunga menjadi 3 persen tahun depan. Mengacu pada proyeksi, angka pengangguran akan naik di atas 5 persen seiring turunnya permintaan.

"Sekarang terserah Komite Kebijakan Moneter untuk memastikan inflasi turun tahun depan dan Kanselir baru untuk mendukung rumah tangga yang paling terpengaruh oleh resesi dan tekanan biaya hidup," kata Millard.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Resesi inggris Stagflasi
Editor : Feni Freycinetia Fitriani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top