Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perusahaan China Antre Catatkan Saham di Bursa Swiss, Ada Apa Nih?

Beberapa perusahaan China mengalihkan pencatatan sahamnya ke bursa Swiss. Hal ini dimungkinkan dengan adanya skema GDR.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 01 Agustus 2022  |  10:45 WIB
Perusahaan China Antre Catatkan Saham di Bursa Swiss, Ada Apa Nih?
Gedung bursa efek Swiss - Bloomberg
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan China yang ingin mengumpulkan uang tunai di bursa luar negeri kini beralih ke Swiss.

Adapun, alasan perusahaan Negeri Tirai Bambu tersebut adalah persetujuan peraturan yang cepat untuk mendaftarkan perusahaan di bursa saham.

Baker McKenzie mengatakan pihaknya bertindak sebagai penasihat hukum untuk empat perusahaan China pertama yang mencatatkan saham melalui program penghubung saham baru dengan Swiss pada 28 Juli 2022.

Perusahaan-perusahaan itu berhasil mengumpulkan dana segar sekitar US$1,5 miliar.

"Regulator sekuritas China menyetujui penerbitan saham baru hanya dalam beberapa minggu," kata Wang Hang, mitra praktik pasar modal di Baker McKenzie, Beijing, dikutip dari CNBC Internasional.

Padahal, dia mencatat proses persetujuan untuk penerbitan saham lainnya bisa memakan waktu beberapa bulan atau bahkan setengah tahun.

Sayangnya, Komisi Pengaturan Sekuritas China belum memberikan komentar apapun terkait dengan hal ini.

Pendaftaran saham baru ini bukanlah penawaran umum perdana, tetapi mencerminkan saluran baru bagi perusahaan China yang terdaftar di pasar saham China daratan untuk meningkatkan modal di luar negeri.

Keempat perusahaan yang ditangani Baker McKenzie tersebut, yaitu GEM, Gotion High-tech, Keda Industrial Group dan Ningbo Shanshan.

Keempat perusahaan tersebut bergerak di bidang energi baru atau industri manufaktur.

Adapun, keempatnya mengeluarkan global depositary receipts (GDR) di Six Swiss Exchange sebagai bagian dari program hubungan saham China-Swiss baru dengan bursa Shanghai dan Shenzhen.

Seperti diketahui, akses perusahaan China ke pasar modal luar negeri telah mendapat sorotan yang meningkat sejak penangguhan profil tinggi dari IPO yang direncanakan Ant Group pada akhir 2020 dan tindakan keras Beijing terhadap Didi pada musim panas 2021.

Di sisi China, peraturan baru pemerintah seputar privasi pengguna dan keamanan nasional telah meningkatkan standar penawaran umum atau initial public offering (IPO) di luar negeri.

Kemudian, potensi kegagalan untuk mencapai kesepakatan audit dengan AS mengancam penghapusan banyak perusahaan China dari bursa saham New York.

Namun, perusahaan yang ingin mendaftar di China daratan dan Hong Kong sering menghadapi persyaratan yang lebih ketat daripada di pasar AS.

Sebuah laporan EY menemukan bahwa pada 14 Juni, lebih dari 920 perusahaan mengantri untuk go public di China daratan dan Hong Kong.

Sementara perusahaan China menunggu kejelasan tentang proses IPO yang lebih cepat, beberapa memilih beralih ke Swiss.

"Seorang klien yang mempertimbangkan IPO Hong Kong memutuskan untuk memprioritaskan daftar GDR di Swiss, dan mengejar IPO Hong Kong dikemudian hari," kata Wang.

Sejak berita tentang program koneksi China-Swiss datang pada awal tahun ini, Wang mengatakan setidaknya 13 perusahaan yang terdaftar di China telah mengumumkan niat mereka untuk menawarkan saham di Negeri Keju tersebut.

“Ada perusahaan lain yang berencana untuk itu tetapi belum membuat pengumuman,” ujarnya.

Sebagai catatan, GDR adalah sertifikat bank yang diterbitkan di lebih dari satu negara untuk saham di perusahaan asing.

Menurut Investopedia, GDR mencantumkan saham di dua atau lebih pasar. Skema GDR paling sering dijumpai di pasar AS dan Eropa, dengan satu sistem keamanan yang sepadan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china swiss bursa saham listing ipo
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top