Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inflasi Eropa Sentuh Rekor Sepanjang Masa! Tembus 8,9 Persen

Penyebab utama melonjaknya inflasi di Eropa adalah kenaikan harga energi dan pangan, sebagai imbas dari serangan Rusia ke Ukraina.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 29 Juli 2022  |  18:52 WIB
Inflasi Eropa Sentuh Rekor Sepanjang Masa! Tembus 8,9 Persen
Kantor pusat Bank Sentral Eropa (ECB) di Frankfurt, Jerman. - Reuters/Alex Domanski
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Tingkat inflasi di Eropa mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Hal ini menjadi dorongan bagi Bank Sentral Eropa untuk menaikkan suku bunga acuan.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (29/7/2022), harga konsumen di Eropa pada Juli 2022 mencapai 8,9 persen, naik dari bulan sebelumnya yakni 8,6 persen. Realisasi Juli 2022 itu melampaui konsensus para ekonom yang dihimpun Bloomberg, yakni pada angka 8,7 persen.

Adapun penyebab utama melonjaknya inflasi adalah kenaikan harga energi dan pangan, sebagai imbas dari serangan Rusia ke Ukraina.

Tekanan harga yang semakin intensif membuat Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) menaikkan suku bunga deposito setengah poin pada bulan ini. Keputusan itu cukup mengejutkan para ekonom.

“Penting untuk mengatasi tanda apa pun bahwa ekspektasi inflasi semakin mengakar,” ujar Presiden ECB Christine Lagarde.

Di luar kebijakan moneter, pemerintah di 19 negara Eropa telah menggelontorkan miliaran euro untuk meringankan beban rumah tangga. Meskipun begitu, Prancis dan Spanyol tetap mencatatkan rekor inflasi lagi pada bulan ini.

Kepala Bank Sentral Italia Ignazio Visco mengatakan bahwa terlalu dini untuk memutuskan ukuran pasti dari pergerakan suku bunga berikutnya. Dinamika ekonomi terbaru, dengan adanya ancaman penghentian energi dari Rusia membawa kekhawatiran resesi ke depan.

Menurut Visco, kondisi itu mendorong para analis dan pedagang untuk mengurangi ekspektasi biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Tekanan di wilayah Eropa memang menguat. Produsen melaporkan penurunan tajam dalam permintaan, sedangkan harga yang lebih tinggi membatasi aktivitas sektor jasa, menurut survei terbaru oleh S&P Global.

JPMorgan dan Goldman Sachs termasuk di antara bank-bank besar yang memprediksi terjadinya resesi di Eropa. Pihak Goldman mengatakan bahwa sinyal itu sebenarnya sudah ada pada kuartal II/2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Inflasi uni eropa bank sentral eropa suku bunga acuan
Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top