Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Perusahaan Migas Asing Balik ke RI, Aspermigas Minta Hal Ini ke Pemerintah

Sejumlah perusahaan minyak dan gas (Migas) asing yang sempat hengkang akhir tahun lalu kembali menyatakan minat untuk investasi di Indonesia.
Platform offshore migas. Istimewa/SKK Migas
Platform offshore migas. Istimewa/SKK Migas

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) meminta pemerintah untuk menekan biaya operasional pengembangan wilayah kerja minyak dan gas (WK Migas) menyusul momentum meningkatnya ketertarikan perusahaan Migas internasional untuk kembali berinvestasi di Indonesia.

Direktur Aspermigas Moshe Rizal mengatakan ongkos operasional lapangan Migas di Indonesia relatif lebih mahal dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan beberapa negara produsen lain. Konsekuensinya, harga jual Migas yang diproduksi di Indonesia tidak kompetitif dibandingkan dengan produk negara kompetitor.

“Kalau biaya operasional di Indonesia itu lebih mahal dibandingkan biaya investasi di negara lain itu akan menjadi pertimbangan sangat kuat,” kata Moshe saat dihubungi, Rabu (20/7/2022).

Situasi itu, kata Moshe, memperburuk tingkat pengembalian modal dan kompetitif investasi hulu Migas di Indonesia dibandingkan dengan negara lain.

Menurutnya, beberapa komponen penyumbang ongkos terbesar di sektor hulu Migas nasional berasal dari biaya pengeboran yang terdiri infrastruktur rig dan material yang digunakan sepanjang pengembangan lapangan.

“Kalau biaya operasional kita gede biaya eksplorasi kita terlalu besar akan bisa terlalu lama untuk pengembalian investasi bisa delapan hingga sembilan tahun di mana negara lain hanya 6 tahun,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan sejumlah perusahaan minyak dan gas (Migas) kelas kakap yang sempat hengkang akhir tahun lalu kembali menyatakan minatnya untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di sejumlah lapangan prospektif di Indonesia.

Arifin mengatakan manuver itu belakangan disebabkan karena disrupsi pasokan energi di tengah tensi geopolitik perang Rusia-Ukraina yang menyebabkan distribusi dan harga komoditas minyak dan gas makin ketat sejak awal tahun ini.

Di sisi lain, temuan sumber daya gas di Blok Andaman II turut menjadi faktor pendorong ketertarikan perusahaan global itu kembali ke Indonesia.

“Beberapa international company besar-besar yang dulu hengkang sekarang juga sudah mau datang lagi,” kata Arifin saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (20/7/2022).

Arifin mengatakan kementeriannya juga sempat melakukan roadshow atau penjajakan rutin ke sejumlah perusahaan global itu untuk membicarakan potensi temuan sumber daya Migas yang terbilang prospek di Tanah Air.

“Sekarang hasil dari roadshow ini sudah ada respon sudah ada tanda-tanda tinggal kita bagaimana menyambutnya,” ujarnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper