Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Belum Temukan Keekonomian Proyek, Pengembangan EOR Blok Rokan Dipastikan Molor

Pertamina menargetkan pengembangan blok Migas itu dapat dikerjakan lebih cepat dengan target produksi pada 2025 mendatang. Adapun SKK Migas masih berupaya untuk mencari harga keekonomian yang lebih efisien untuk mengembangkan rencana EOR pada blok Migas tersebut.
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 18 Juli 2022  |  18:35 WIB
Belum Temukan Keekonomian Proyek, Pengembangan EOR Blok Rokan Dipastikan Molor
Pekerja PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengecek pompa angguk atau pumping unit di Central Gathering Station (CGS) 10 Field Duri, Blok Rokan, Bengkalis, Riau, Rabu (22/12/2021). ANTARA FOTO - Nova Wahyudi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memastikan rencana pengembangan enhanced oil recovery (EOR) di Blok Rokan kembali molor akibat isu keekonomian kandungan kimia yang diperlukan untuk kegiatan operasi belum terselesaikan hingga pertengahan tahun ini.

Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan lembagannya masih melakukan kajian intensif terkait dengan sejumlah kimia alternatif untuk menghasilkan keekonomian proyek yang prospektif pada salah satu blok minyak dan gas (Migas) yang belakangan menjadi fokus pengembangan EOR di dalam negeri.

“Jadi sekarang itu lagi dikaji bahan-bahan kimia lain campurannya seperti apa, dikaji ya secara sub-surface nanti mana yang kira kira workable itu akan dilakukan field trial dahulu,” kata Fatar saat ditemui di kantor SKK Migas, Jakarta, Senin (18/7/2022).

Kajian itu, kata Fata, membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun mendatang untuk dapat mengukur dengan definit keekonomian proyek EOR di Blok Rokan tersebut. Saat ini, lanjutnya, sebagian kandungan kimia untuk kegiatan EOR itu sudah berhasil diproduksi di dalam negeri seperti surfaktan dan polimer. Hanya saja beberapa kandungan kimia lain yang selama ini dimiliki Chevron masih belum dapat diproduksi.

“Kalau Pertamina kan harapannya bisa lebih cepat. Tapi kalau dengan melakukan studi ini agak sedikit delay. Harapan kita dengan ini lebih bagus bisa dilakukan studi yang matang hasilnya besar daripada dipaksakan sekarang malah nanti hasilnya tidak ada,” kata dia.

Menurut dia, Pertamina menargetkan pengembangan blok Migas itu dapat dikerjakan lebih cepat dengan target produksi pada 2025 mendatang. Adapun SKK Migas masih berupaya untuk mencari harga keekonomian yang lebih efisien untuk mengembangkan rencana EOR pada blok Migas tersebut.

Seperti diketahui Blok Rokan menjadi salah satu ladang minyak subur dengan cadangan paling besar yang pernah ditemukan di Indonesia. Saat ini Blok Rokan menyumbang 26 persen dari total produksi nasional. Blok yang memiliki luas 6.220 kilometer ini memiliki 96 lapangan dimana tiga lapangan berpotensi menghasilkan minyak sangat baik, yaitu Duri, Minas dan Bekasap.

Cadangan minyak yang dimiliki Blok Rokan mencapai 500 juta hingga 1,5 miliar barel oil equivalent tanpa Enhance Oil Recovery atau EOR.

Pengembangan EOR dan chemical EOR merupakan salah satu strategi yang ditetapkan SKK Migas untuk mengejar target produksi minyak 1 juta barel per hari dan gas bumi 12 miliar juta standar kaki kubik per hari. Wilayah Kerja (WK) Rokan sendiri menjadi salah satu fokus untuk pengembangan EOR.

Pengembangan rencananya dilakukan di Lapangan Minas dengan target penyelesaian tahapan POD, front end engineering design, dan final investment decision (FID) pada tahun ini, dan mulai memasuki tahapan implementasi proyek di tahun mendatang.

Sebelumnya, PT Pertamina (Persero) tengah membuka peluang kerja sama untuk bisa mengembangkan chemical EOR yang akan digunakan untuk meningkatkan produksi di WK Rokan. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, sampai dengan proses alih kelola WK Rokan rampung, formula chemical EOR yang dimiliki oleh Chevron Pacific Indonesia tidak dapat dibuktikan sebagai bagian dari cost recovery.

Nicke menuturkan, sampai dengan saat ini Pertamina masih tetap melakukan pembicaraan untuk membuat kerja sama dengan Chevron Oronite yang merupakan anak usaha dari Chevron yang memegang formula chemical EOR.

“Kami tinggal berhitung saja mengenai keekonomian. Jadi masih terbuka untuk menggunakan itu. Namun, paralel karena kami melihat kami bisa juga buka dengan perusahaan-perusahaan lain yang memang berminat juga untuk proof of concept chemical EOR di Rokan ini, karena menarik sekali,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Blok Rokan PT Pertamina Hulu Rokan hulu migas industri hulu migas skk migas
Editor : Kahfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top