Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Viral Petani Sawit Jual TBS ke Malaysia, Zulkifli Hasan: Wajar Dong

Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan buka suara mengenai kabar yang ramai beredar di media sosial yang terkait petani menjual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke Malaysia.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 05 Juli 2022  |  13:38 WIB
Viral Petani Sawit Jual TBS ke Malaysia, Zulkifli Hasan: Wajar Dong
Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan meninjau sejumlah tempat penjualan minyak goreng curah rakyat (MGCR) di beberapa toko kelontong di wilayah Klender, Jakarta, Rabu, 22 Juni 2022 / Dok. Biro Humas Kemendag.

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan buka suara mengenai kabar yang ramai beredar di media sosial yang terkait petani menjual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke Malaysia.

Mendag Zulkifli mengatakan kondisi tersebut lazim terjadi. Sebab, di Malaysia, harga beli TBS sawit jauh lebih tinggi ketimbang di Indonesia. 

"Wajar dong. Di sana (dibeli) mahal Rp 4.500 (per kilogram), kita cuma Rp 1.000. Itu karena ada kebijakan kemarin enggak tepat berdampak ke sana," kata Mendag Zulkifli di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Senin (4/7/2022).

Dia menilai situasi itu terjadi lantaran adanya kebijakan larangan ekspor crude palm oil atau CPO yang sempat diberlakukan pemerintah. Meski keran ekspor CPO telah dibuka, penyerapan TBS kelapa sawit belum maksimal dan membuat harga di tingkat petani tersungkur. 

Untuk mengatasi rendahnya harga TBS, Zulkifli mengatakan Kemendag akan mendorong percepatan ekspor. "Kita percepat. Kita lakukan percepatan agar lancar lagi," ujarnya.

Zulkifli mengakui ekspor CPO terhambat karena banyak kapal yang tidak lagi tersedia untuk mengangkut komoditas sawit. Penyebabnya, larangan ekspor membuat kapal-kapal yang biasanya mengangkut TBS untuk ekspor terlanjur membuat kontrak baru dengan perusahaan lain. 

"SPE (surat perizinan ekspor) untuk ekspor sudah, karena sudah telanjur kemarin itu kapal kapal," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) Gulat Manurung mengatakan harga TBS masih anjlok sehingga membuat banyak petani sawit panik. Kondisi itu menyebabkan petani memilih menjual ke Malaysia karena harga TBS di sana mencapai Rp 4.500 per kilogram. 

"Di sini harga semakin hari semakin turun. Ini yang membuat petani panik sekali dari Aceh sampai Papua. Untuk petani yang berada di perbatasan Malaysia masih bisa selamat karena mereka bisa jual ke sana TBS nya di mana di sana mencapai Rp 3.500 sampai Rp 4.500," kata Gulat Senin, (4/7/2022) seperti dilansir Tempo.

Harga TBS di Indonesia, kata Gulat, tidak sampai Rp1.000 per kilogram. Dia menyebut banyak petani mengalami kesulitan ekonomi. Dia menuturkan, kendati tindakan tersebut ilegal, upaya ini dapat menyelamatkan perekonomian keluarga petani sawit. 

"Sementara di Indonesia seribu rupiah saja susah. Nah ini masalah ekonomi keluarga, apapun pasti kami lakukan daripada kami merampok lebih baik kami jual hasil TBS kami ke negara tetangga," ujarnya.

Dia berharap pemerintah memaklumi para petani yang menjual TBS ke Malaysia walaupun melanggar ketentuan ekspor TBS.

"Mungkin peraturan negara ini belum melegalkan hal tersebut, tapi situasi membuat dan kami menunggu kebutuhan ekonomi keluarga membiatain anak anak uang sekolah biaya berobat," katanya. 

Petani menjual sawit ke Malaysia melalui perbatasan Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Petani di Kalimantan barat rata-rata menjual TBS melalui jalan darat, sedangkan petani di Kalimantan Utara melalui jalur laut. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tbs sawit minyak sawit kelapa sawit mendag zulkifli hasan

Sumber : Tempo.Co

Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top