Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Sri Lanka Nyaris Lumpuh, Stok Bensin Hampir Habis

Ceylon Petroleum Corp yang dikelola negara belum menerima tender untuk mengisi stok bahan bakar baru karena terhalang oleh tunggakan pembayaran.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 19 Juni 2022  |  01:00 WIB
Ekonomi Sri Lanka Nyaris Lumpuh, Stok Bensin Hampir Habis
Sri Lanka kekurangan bahan bakar - Ishara S. Kodikara/Getty Images

Bisnis.com, JAKARTA - Aktivitas perekonomian Sri Lanka nyaris lumpuh seiring dengan krisis keuangan dan kelangkaan bahan bakar untuk transportasi.

Dilansir Bloomberg pada Sabtu (18/6/2022), pemerintah mengumumkan pada Jumat sebagai hari libur bagi kantor-kantor publik dan sekolah untuk membatasi pergerakan kendaraan di Ibu Kota Kolombo.

Alhasil, ribuan kendaraan mengantre hingga berkilo-kilometer untuk mendapatkan bahan bakar.

Menteri Tenaga dan Energi Sri Lanka Kanchana Wijesekera mengatakan pada Kamis bahwa Ceylon Petroleum Corp yang dikelola negara belum menerima tender untuk mengisi stok bahan bakar baru karena terhalang oleh tunggakan pembayaran.

Surat kabar Daily News pada Sabtu mengutip surat edaran resmi yang mengatakan kepada pegawai negeri untuk bekerja dari rumah selama dua pekan.

Negara di Asia Selatan ini telah berupaya mencari pasokan alternatif ke negara lain termasuk Rusia untuk memenuhi pasokan.

Sri Lanka juga tengah menunggu persetujuan dari India untuk kredit baru senilai US$500 juta yang akan digunakan untuk membiayai impor bahan bakar, kata Wijesekera.

Krisis ekonomi Sri Lanka menjadi yang paling mengerikan dalam sejarah kemerdekaannya. Aksi protes meletus di seluruh penjuru negara dalam beberapa bulan terakhir yang menuntut penggulingan Presiden Gotabaya Rajapaksa dan anggota keluarganya dari pemerintah.

Negara ini akan membutuhkan sekitar US$6 miliar bantuan dari International Monetary Fund (IMF) dan negara lainnya termasuk India dan China untuk enam bulan ke depan, menurut Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe.

Otoritas lokal sedang mencari cara untuk mempercepat pembicaraan terkait dengan dana talangan dengan IMF sehingga bisa mendapatkan sumber pendanaan baru lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asia krisis ekonomi sri lanka
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top