Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gas Bumi Mahal, Industri Pupuk Masih Layak Investasi?

Industri pupuk mengandalkan gas bumi sebagai bahan baku utama. Berdasarkan data Tradingeconomics, harga gas bumi sendiri telah melonjak lebih darr 136,20 persen dalam setahun terakhir (yoy). Masikan industri pupuk prospek?
Rahmad Fauzan
Rahmad Fauzan - Bisnis.com 15 Juni 2022  |  21:41 WIB
Gas Bumi Mahal, Industri Pupuk Masih Layak Investasi?
Seorang warga memikul pupuk di perladangan sekitar instalasi sumur Geothermal atau panas bumi PT Geo Dipa Energi di kawasan dataran tinggi Dieng Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah, Rabu (19/8/2020). ANTARA FOTO - Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA - Kenaikan harga gas bumi yang sudah melonjak 136,20 persen dalam setahun terakhir (yoy) menjadi tantangan bagi industri pupuk untuk berkembang. Masikah sektor ini menarik untuk investasi?  

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja industri pengolahan RI pada Mei 2022 melambat. Industri pengolahan menjadi kontributor terbesar atas penurunan ekspor sektor nonmigas pada Mei 2022.

Data yang sama menunjukkan ekspor industri pengolahan turun sebesar 25,93 persen secara month-to-month (m-t-m) dengan nilai US$14,14 miliar. Namun, komoditas pupuk mengalami lonjakan impor. Indikasi yang menunjukkan masih terbukanya ruang permintaan. 

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bima Yudhistira pun menilai industri pupuk layak menjadi primadona para investor.

"Cukup layak dijadikan primadona para investor. Akan banyak yang tertarik. Beberapa hal seperti potensi ekspor ke sejumlah negara tujuan, salah satunya Vietnam, menjadi faktor utama," kata Bhima kepada Bisnis, Rabu (15/6/2022).

Selain itu, lanjut Bhima, potensi pasar industri pupuk cukup besar karena ditopang sejumlah hal. Pertama, kebutuhan pangan meningkat karena mobilitas masyarakat kembali normal pascapandemi.

Potensi pasar pupuk di Indonesia sendiri mencapai 27,82 juta ton. Dengan perincian 19,56 juta ton pupuk subsidi dan 8,26 juta ton untuk pupuk nonsubsidi.

Rata-rata laju potensi pasar pupuk subsidi dalam negeri sebesar 1,08 - 3,2 persen per tahun. Sementara itu, rata-rata laju potensi pasar pupuk nonsubsidi sebesar 2,73 - 7,49 persen per tahun.

Secara lebih terperinci, potensi pasar pupuk nonsubsidi terdiri atas pupuk majemuk dengan kebutuhan sebesar 10,58 juta ton per tahun, dan pupuk tunggal sebesar 9,05 juta ton per tahun.

Dalam 5 tahun terakhir, potensi pasar pupuk nonsubsidi di Indonesia tercatat naik sekitar 42 persen dari 16,07 juta ton menjadi 27,82 juta ton.

Kedua, tingginya permintaan pupuk organik dari masyarakat ekonomi menengah di perkotaan.

Namun demikian, kata Bhima, industri pupuk juga tidak terlepas dari tantangan. Salah satu yang terbesar adalah fluktuasi harga gas yang memberikan pengaruh signifikan terhadap produksi.

"Sebab, 70 persen produksi pupuk urea ditentukan oleh gas," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri pupuk
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top