Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Wow, Industri Farmasi Indonesia Bisa Raup Rp400 Triliun per Tahun. Kok Bisa?

Kemenkes akan mengupayakan semua pembelian government procurement periode 2022 - 2023 diarahkan ke industri-industri yang membangun di dalam negeri, termasuk farmasi.
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool
Petugas kesehatan memeriksa alat kesehatan di ruang IGD Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran itu siap digunakan untuk menangani 3.000 pasien. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/Pool

Bisnis.com, JAKARTA -- Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyebut industri farmasi Indonesia berpotensi meraup pendapatan US$32 miliar atau sekitar Rp400 triliun per tahun.

Budi mengatakan potensi tersebut dihitung berdasarkan uang yang dikeluarkan orang Indonesia untuk membeli obat-obatan dalam setahun, dibandingkan dengan total pengeluaran per kapita per tahun.

"Spending per kapita per bulan orang Indonesia US$112, yang dikeluarkan untuk membeli obat-obatan sekitar 40-50 persen," kata Budi di acara peresmian pabrik BBO Kimia Farma di Cikarang, Kamis (2/6/2022).

Dengan perhitungan bahwa pengeluaran per kapita per tahun tersebut sebanyak 40 persen untuk membeli obat, maka ada potensi revenue sebanyak US$32 miliar atau sekitar Rp400 triliun per tahun yang bisa diraup industri farmasi.

Untuk merealisasikan potensi itu, kata Budi, Kemenkes akan mengupayakan semua pembelian government procurement periode 2022 - 2023 diarahkan ke industri-industri yang membangun di dalam negeri, termasuk farmasi.

Saat ini, pemerintah sudah memulai langkah menuju produksi BBO secara mandiri di Indonesia. Bahkan, proses penggantian sumber (change source) bahan baku obat (BBO) di industri farmasi Tanah Air dari impor menjadi lokal diperkirakan rampung pada September 2022.

Dirjen Farmasi dan Alat Kesehatan (Farmalkes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Rizka Andalucia mengatakan pada September mendatang produk obat yang diformulasikan dari BBO dalam negeri sudah dapat diproduksi.

"Proses change source akan selesai dan menghasilkan produk obat yang diformulasi dengan BBO dalam negeri pada September 2022, sehingga bisa segera digunakan di fasilitas kesehatan," kata Rizka.

Beberapa industri farmasi yang telah menyampaikan komitmen mengganti BBO impor menjadi lokal, antara lain PT Dexa Medica, PT Dipa Pharmalab, PT Phapros Tbk. PT Novell Pharmaceutical Laboratories. Kemudian, PT Pertiwi Agung, PT Otto Pharmaceutical, PT Lapi Laboratories, dan PT Meprofarm.

Dia berharap komitmen industri farmasi tersebut terus berlanjut demi menjamin keberlangsungan industri BBO serta meningkatkan ketahanan pangan.

Di samping itu, sambungnya, pemerintah akan melakukan pendampingan kepada industri farmasi dalam melakukan change source BBO untuk mewujudkan percepatan pengembangan industri farmasi Tanah Air.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rahmad Fauzan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper