Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Rahmat Kurniawan

Rahmat Kurniawan

Perutusan Tetap Indonesia di PBB Wina
email Lihat artikel saya lainnya

OPINI: Prospek Ekonomi Sirkular dan Tantangannya

Konsep ekonomi sirkular ini tidak hanya mampu membantu pencegahan kenaikan suhu global tetapi juga dapat memberikan insentif atau peluang ekonomi tambahan.
Bisnis.com - 31 Mei 2022  |  07:48 WIB
OPINI: Prospek Ekonomi Sirkular dan Tantangannya
Suasana deretan gedung bertingkat di Jakarta, Minggu (6/3/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Perubahan iklim merupakan topik yang terus menjadi perhatian dunia. Selain karena dampaknya yang sudah mulai dirasakan langsung di berbagai wilayah dunia seperti cuaca ekstrem dan banjir, publik saat ini bertambah waspada dengan perkembangan terkini isu tersebut.

Berdasarkan laporan Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim, temperatur global dikatakan sudah mencapai 1,2 derajat celcius dan berpotensi terus meningkat menjadi 1,5 derajat celsius dalam dua dekade mendatang. Hal ini sangat mengkhawatirkan karena target Perjanjian Paris adalah agar temperatur global tidak mencapai 1,5 derajat celcius.

Oleh karenanya, untuk membatasi kenaikan suhu global, diperlukan upaya mitigasi yang serius dari semua pihak untuk mengurangi emisi global. Beberapa upaya mitigasi yang digalakkan saat ini adalah penghentian penggunaan bakar fosil dan batu bara, penghentian deforestasi, dan penerapan teknologi ramah lingkungan.

Selain hal-hal tersebut di atas, sebenarnya terdapat satu lagi upaya mitigasi yang berpotensi untuk berkontribusi dalam penanganan isu perubahan iklim. Upaya mitigasi dimaksud adalah melalui ekonomi sirkular. Konsep ekonomi sirkular ini tidak hanya mampu membantu pencegahan kenaikan suhu global tetapi juga dapat memberikan insentif atau peluang ekonomi tambahan.

Ekonomi sirkular dapat dikatakan sebagai sebuah konsep pemanfaatan sumber daya yang efisien dan berkelanjutan. Secara singkat, dalam menerapakan konsepnya, suatu produk dibuat dengan meminimalkan penggunaan bahan baku baru; kemudian, produk atau komponennya yang dahulu dibuang karena masa penggunaannya telah habis justru didaur ulang atau diperbaiki selama masih dimungkinkan.

Saat ini, model ekonomi sirkular telah banyak diterapkan oleh perusahaan internasional. Sebagai contoh langsung, terdapat perusahaan sepatu yang menawarkan konsep penjualan baru di mana sepatu yang telah dibeli dan digunakan dalam waktu tertentu oleh pelanggan dapat dikembalikan ke perusahaan tersebut. Sepatu tersebut selanjutnya didaur ulang hingga menjadi baru oleh perusaahan dan diberikan lagi kepada pelanggan yang sama.

Ekonomi sirkular dipercaya sebagai suatu konsep yang sangat potensial dan mampu memberikan dampak positif secara substansial. Kajian McKinsey mengestimasi penerapan konsep ekonomi sirkular di Eropa memiliki nilai ekonomi sebesar 1,8 triliun Euro pada 2030. Selain itu, konsep ini juga dapat bermanfaat bagi lingkungan dengan proyeksi mampu menurunkan emisi karbon sebanyak 48% pada 2030 dan bahkan 83% pada 2050.

Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan Kajian Kementerian PPN/Bappenas Indonesia pada 2021, setidaknya ada tiga potensi dampak positif langsung dari penerapan ekonomi sirkular di beberapa sektor industri. Pertama, peluang penambahan produk domestik bruto hingga Rp642 triliun. Kedua, terciptanya 4,4 juta lapangan kerja baru. Ketiga, membantu upaya penurunan emisi gas rumah kaca sekitar 126 juta ton CO2 ekuivalen pada 2030.

Dengan kata lain, penerapan dari konsep ekonomi sirkular tidak hanya berpeluang memberikan kesejahteraan secara ekonomi tetapi juga berpotensi mengurangi dampak kerusakaan lingkungan dan emisi gas kaca.

Setelah berbicara potensi, penting juga untuk mengetahui tantangan yang akan dihadapi dalam penerapan konsep ekonomi sirkular. UNIDO, badan PBB yang saat ini menjadi salah satu forum pembahasan ekonomi sirkular, menjelaskan bahwa sinergi antara masyarakat, industri dan negara merupakan bagian penting, sekaligus menjadi tantangan dalam mengoptimalisasi manfaat dari konsep tersebut.

Untuk dapat memulai penerapan konsep ekonomi sirkular, diperlukan perubahan preferensi dari masyarakat. Dalam membeli suatu produk, masyarakat perlu mulai dapat lebih memprioritaskan untuk membeli produk yang menawarkan program daur ulang.

Selanjutnya, dunia bisnis juga perlu mengubah model bisnis dan desain produknya yang tidak hanya berkualitas tetapi juga mudah untuk didaur ulang atau lebih mudah diperbaiki sehingga mengurangi penggunaan bahan baku baru.

Dukungan dan insentif dari negara juga krusial guna mendukung masyarakat dan dunia bisnis untuk mulai menerapkan ekonomi sirkular. Terkait upaya negara dalam penerapan ekonomi sirkular, penting untuk disadari bahwa masih terdapat perbedaan level pembangunan antara negara maju dan berkembang.

Sebagai contoh, di Prancis, sudah ada perusahaan yang berhasil meraih valuasi 1 miliar dolar AS (status unicorn) dengan model bisnis sirkular. Kesuksesan tersebut kemungkinan besar dapat diraih atas peran pemerintahnya yang telah memiliki kebijakan dan teknologi yang relatif baik. Di sisi lain, negara berkembang termasuk Indonesia masih memiliki keterbatasan termasuk di bidang teknologi untuk mulai implementasikan ekonomi sirkular.

Selanjutnya, tantangan lain yang perlu diantipasi kedepannya adalah penerapan ekonomi sirkular dalam konteks perdagangan internasional. Aktivitas impor dan ekspor antarnegara merupakan praktik yang umum dilakukan termasuk untuk produk daur ulang. Namun, masih terdapat negara yang memberlakukan hambatan dagang seperti pajak tambahan dan bahkan larangan impor untuk produk daur ulang. Beberapa alasan yang umumnya mendasari pemberlakuan hambatan dagang tersebut adalah produk ulang dianggap produk limbah dan berbahaya terhadap kesehatan.

Ekonomi sirkular telah dianggap sebagai suatu konsep yang tidak hanya berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi suatu negara tetapi juga mampu berkontribusi penyelesaian isu global yakni perubahan iklim. Oleh karena itu, guna memetik manfaat penuh dari konsep ekonomi sirkular, kerja sama dari semua elemen (masyarakat, dunia bisnis, dan negara) serta kerja sama internasional merupakan kunci penting dan perlu untuk terus dilanjutkan dalam mengatasi berbagai tantangan dari penerapan konsep tersebut.

Dengan meminimalisir serta memperpanjang penggunaan bahan baku yang tersedia, konsep ekonomi sirkular kiranya dapat dimanfaatkan sebagai momentum oleh Indonesia untuk memperkuat kemandirian di tengah ketidakpastian dan tantangan global seperti perubahan iklim dan krisis Ukraina.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Pertumbuhan Ekonomi perubahan iklim Ekonomi Sirkuler
Editor : Feni Freycinetia Fitriani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top