Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Mentah Dunia Melejit, Namun KKKS Masih Pelit Eksplorasi

Investor kurang tergoda untuk kembali berinvestasi di lapangan minyak Indonesia. Salah satu sebabnya, penyesuaian harga yang lamban.
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat./Reuters
Sebuah soket pompa yang pernah digunakan untuk membantu mengangkat minyak mentah dari sumur Eagle Ford Shale, Dewitt County, Texas, Amerika Serikat./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) menilai iklim investasi dan tata kelola sektor hulu minyak dan gas (Migas) di dalam negeri masih belum kompetitif jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain yang belakangan dilirik oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) global.

Malahan, kondisi itu belakangan ikut diperburuk dengan sentimen nasionalisasi sejumlah lapangan migas yang masih produktif seperti Blok Rokan, Riau dan blok Mahakam, Kalimantan Timur yang diambil alih PT Pertamina (Persero).

Direktur Aspermigas Moshe Rizal mengatakan sentimen itu turut menyurutkan minat KKKS global untuk berinvestasi dan melakukan eksplorasi Migas di dalam negeri. Kendati, kata dia, situasi keekonomian KKKS global relatif solid di tengah harga minyak mentah dunia yang masih tertahan tinggi hingga pertengahan tahun ini.

Bahkan, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memperkirakan asumsi harga minyak atau Indonesia Crude Price (ICP) 2023 masih bertahan di atas US$70 per barel tahun depan.

“Investor itu merasa kalau ada tendensi nasionalisasi lapangan yang sudah sukses itu bukan hal yang bagus, Rokan dan Mahakam itu kan diambil alih Pertamina, lapangannya masih produktif. Sementara Chevron dan Total itu sebenarnya ingin melakukan pekerjaan di sana,” kata Moshe melalui sambungan telepon, Senin (30/5/2022).

Kendati demikian, Moshe menilai positif sejumlah inisiatif yang diambil pemerintah untuk menyederhanakan prosedur perizinan, pengadaan tender, hingga kelengkapan data Migas nasional. Hanya saja, dia meminta, pemerintah untuk menawarkan sejumlah insentif untuk mendorong minat eksplorasi dan investasi pada sektor hulu Migas yang belakangan masih tidak kompetitif dibandingkan negara lain.

Di sisi lain, dia menggarisbawahi situasi pasar minyak mentah dunia yang masih terus bergejolak akibat perang Rusia-Ukraina turut membuat investor untuk menarik diri untuk mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure yang relatif besar untuk melakukan kegiatan eksplorasi lapangan baru. Kondisi itu mengakibatkan realisasi produksi terangkut atau lifting Migas nasional masih relatif rendah.

“Tapi kan bukan harga tinggi lalu investasi kemudian jadi marak karena kita lebih memastikan harga tinggi itu kenapa? Ini kan sitausi global masih volatile kalau dilihat dari harga Brent dan West Texas Intermediate (WTI),” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengadakan rapat dengar pendapat secara tertutup dengan pimpinan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) di tengah harga minyak mentah dunia yang masih tertahan tinggi hingga pertengahan tahun ini. Rapat yang berlangsung sejak pukul 13.30 WIB itu baru rampung pada pukul 16.00 WIB.

Berdasarkan agenda komisi yang diterima Bisnis, rapat itu membahas sejumlah isu krusial di sisi hulu minyak dan gas (Migas) seperti kinerja penerimaan negara sektor hulu Migas pada 2022 dan target 2023, perkembangan lifting Migas hingga proyeksi asumsi harga minyak atau Indonesia crude price (ICP) pada 2023.

“Sekarang ini kita masih membahas publikasi-publikasi analis, nanti berapanya asumsi ICP akan ditentukan oleh DPR dan pemerintah. Normalnya harga minyak dan gas itu tidak ada yang bisa menebak secara pasti ini kan tidak normal sedang ada perang sehingga harga melambung tinggi,” kata Kepala SKK Migas Dwi Sutjipto saat ditemui Bisnis selepas rapat di Komisi VII, Jakarta, Senin (30/5/2022).

Berdasarkan publikasi sejumlah analis, Dwi mengatakan, perkiraan ICP pada 2023 masih berada rata-rata di atas US$70 per barel. Perkiraan itu, kata dia, belakangan bakal ikut menaikan target penerimaan dari sektor hulu Migas pada tahun depan.

“Dengan harga tinggi itu, KKKS sangat antusias untuk melakukan kegiatan yang lebih banyak seperti ngebor saja tahun lalu itu 240 sumur tahun ini itu paling tidak kita akan lihat di atas 790 sumur. Tetapi, setelah ngebor ini ada pipa flow line-nya yang segala macam yang reaksinya tidak bisa cepat,” tuturnya.

Di sisi lain, dia yakin, torehan lifting pada tahun depan bakal naik signifikan seiring dengan stabilnya harga minyak mentah dunia di posisi yang tinggi. Apalagi, dia menambahkan, situasi keekonomian dari KKKS belakangan sudah lebih agresif dengan realisasi eksplorasi yang naik tajam pada tahun ini.

“Kita berharap eksplorasi yang baru di Andaman di Aceh itu juga punya potensi yang sangat besar, sudah tajak sekarang lagi berlangsung mudah-mudahan akhir Juni terbukti ada cadangan yang cukup besar, mudah-mudahan Andaman bisa jadi Marsela kedua,” kata dia.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper