Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mulai Angkat Koper dari China, Asia Tenggara, Rusia, Pabrikan Jepang Pulang Kampung?

Pelemahan nilai tukar Yen berimbas terhadap operasional manufaktur Jepang di sejumlah negara.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 16 Mei 2022  |  18:16 WIB
Mata uang yen Jepang dan Dollar AS. - Bloomberg
Mata uang yen Jepang dan Dollar AS. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA — Manufaktur Jepang diperkirakan akan memindahkan operasinya ke kampung halaman lantaran pelemahan yen, gangguan rantai pasok global, hingga tekanan geopolitik.  

Direktur Pelaksana Tokyo Steel Manufacturing Co., Kiyoshi Imamura mengatakan perusahaan Jepang mulai keluar dari China, Asia Tenggara, dan Rusia.

Peralihan ini akan diikuti dengan pembangunan pabrik baru di dalam negeri sehingga mengerek permintaan baja untuk konstruksi. Produsen baja tersebut mengatakan telah menerima hampir 30 pesanan yang terkait dengan aksi tersebut.

"Yen jatuh banyak sehingga keseimbangan perdagangan Jepang tidak akan kembali menguntungkan dengan berbagai kondisi. Perusahaan menilai lebih baik untuk memproduksi di Jepang," ujar Imamura seperti dilansir Bloomberg pada Senin (16/5/2022). 

Alhasil, kenaikan permintaan untuk kebutuhan konstruksi mencapai 10 persen pada tahun ini, dibandingkan dengan tahun lalu.

Tren tersebut akan semakin terakselerasi pada akhir tahun ini. Sejumlah pabrikan yang memindahkan operasinya berasal dari berbagai kalangan seperti komponen otomotif, elektronik, dan kosmetik.

Nilai tukar yen anjlok sekitar 11 persen dibandingkan dengan dolar AS sejak awal tahun ini, memperburuk kenaikan harga untuk komoditas impor Jepang.

Bahkan sebelum yen jatuh tahun ini, pemerintah Jepang telah mendukung relokasi basis produksi perusahaan domestik kembali ke negara itu.

Kementerian Perekonomian, Perdagangan, dan Industri Jepang memberikan insentif kepada perusahaan untuk berinvestasi pada pabrik baru yang memproduksi produk dan bahan baku penting guna meringankan kemacetan rantai pasok.

Pada November, Pemerintah Jepang juga telah menyetujui anggaran 774 miliar yen (US$6 miliar) untuk pembiayaan untuk investasi semikonduktor domestik.

"Pelemahan yen saat ini bukanlah sebuah kejutan jika semakin banyak perusahaan meningkatkan kapasitas produksi domestik," ujar Kepala Ekonom Sumitomo Corp., Takayuki Homma.

Secara terpisah, Global Research Co., mengatakan bahwa jatuhnya yen yang meningkatkan margin ekspor menawarkan opsi untuk mengirim barang-barang dari Jepang secara strategis.

Naiknya upah tenaga kerja di negar alain juga menjadi faktor pendorong. Imamura mengatakan upah Jepang hampir tidak pernah berubah dalam kurun waktu 30 tahun.

Sementara itu, upah di Asia Tenggara terus naik hingga 3 kali lipat dalam periode yang sama.  

Analis achibana Securities Co., di Tokyo Takeshi Irisawa mengatakan tren tersebut menguntungkan pasar baja. Kendati demikian, permintaan baja untuk konstruksi di dalam negeri stagnan.

"[Lonjakan harga baja] akan memperlambat progres, mempersulit yen yang rendah [untuk menjadi pendorong besar bagi produksi Jepang dalam jangka waktu pendek]," ujar Irisawa.  

Di sisi lain, perusahaan Jepang yang kembali ke rumahnya bukan berarti tidak akan menghadapi tantangan. Kenaikan harga listrik dan kekurangan tenaga kerja dipengaruhi oleh populasi yang menua dan berkurang.

Jepang harus lebih inovatif baik dalam memproduksi barang secara efisien dengan tenaga kerja yang lebih sedikit dan datang dengan produk bernilai tambah.

Imamura juga mengatakan pembangkit listrik tenaga nuklir menjadi penting untuk memperbaiki persaingan antara manufaktur dalam negeri.

Dia bersama dengan perusahaan Jepang lainnya berupaya mempercepat aktivasi kembali reaktor nuklir yang menganggur setelah bencana Fukushima lebih dari satu dekade lalu saat negara tersebut menghadapi lonjakan biaya energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang manufaktur kurs nilai tukar yen yen
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top