Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jurus Melarang Ekspor CPO demi Tekan Harga Minyak Goreng, Berhasilkah?

Masih jauhnya harga minyak goreng curah mencapai HET dianggap sebagai kegagalan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan larangan ekspor crude palm oil (CPO).
Indra Gunawan
Indra Gunawan - Bisnis.com 16 Mei 2022  |  14:47 WIB
Ilustrasi Refined, bleached, and deodorized (RBD) palm oil sebagai bahan baku minyak goreng -  The Edge Markets
Ilustrasi Refined, bleached, and deodorized (RBD) palm oil sebagai bahan baku minyak goreng - The Edge Markets

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak goreng curah terpantau sudah mengalami penurunan. Begitu juga dengan minyak goreng kemasan. Meski demikian, harganya masih masih di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp14.000/liter atau Rp15.500/kilogram.

Menurut Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag), harga minyak goreng curah pada Senin (16/5/2022), turun dari Rp17.400 menjadi Rp17.300 per liter. Minyak goreng kemasan sederhana juga turun dari Rp23.900 menjadi Rp23.800 per liter. Sebaliknya, minyak kemasan premium bertengger di Rp26.300 ke Rp26.200 per liter.

Masih jauhnya harga minyak goreng curah mencapai HET dianggap sebagai kegagalan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan terkait minyak goreng. Pasalnya, pemerintah pun sudah mengeluarkan kebijakan pelarangan ekspor minyak sawit mentah atau CPO sejak 28 April kemarin.

Berdasarkan pantauan Bisnis, Minggu (15/5/2022), minyak goreng curah di Pasar Rumput Manggarai sudah berada di kisaran Rp17.000-Rp17.500. Menurut Yani, pedagang di Pasar Rumput, harga minyak goreng curah mulai turun setelah lebaran. Sebelum lebaran, dia masih menjual hingga Rp20.000.

“Alhamdulillah sekarang sudah banyak. Harganya kalau ke pembeli yang jarang-jarang Rp17.000. Tapi kalau ke langganan kita jual Rp 16.500 atau Rp16.000,” ucap ibu dua orang anak itu yang berjualan bersama suaminya.

Yani mengaku, dirinya membeli minyak goreng curah dengan harga Rp14.500 dari agen. Sebaliknya, untuk minyak goreng kemasan, dia menjual merek Sania, Filma, dan Tropical dengan harga Rp45.000/2 liter, sedangkan Sanco Rp47.000/2 liter.

Penurunan harga juga terjadi di Pasar Jatinegara. Para pedagang mengaku mereka menjual minyak goreng curah dengan harga Rp17.000. Bahkan, salah satu pedagang mengatakan, mereka sudah diberi informasi jika minyak goreng curah dengan harga Rp14.000 sudah ada di Pasar Jaya.

Konsumen melihat stok minyak goreng aneka merek tersedia di etalase pasar swalayan Karanganyar pada Kamis (17/3/2022) - Solopos.com/Indah Septiyaning Wardani.

“Katanya udah ada di Pasar Jaya [minyak goreng harga Rp14.000 per liter], cuma saya belum ngambil ini. Saya masih nyimpen stok yang 17.500,” ujar pedagang yang ditemui Bisnis di lantai dasar Jatinegara itu.

Selain itu, berdasarkan pantauan Bisnis, harga minyak kemasan di salah satu gerai Alfamidi Super di Matraman masih tinggi. Berikut rinciannya:

- Bimoli Rp27.500/liter

- Sanco Rp26.200/liter

- Filma Rp28.200/liter

- Rose Brand Rp26.200/liter

- Tropical Rp26.100/liter

HET versus Harga Pasar

Sementara itu, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) menyebut konsep penjualan minyak goreng curah  dengan HET tidak efektif dan sulit direalisasikan. Terkecuali, jika alur produk dari hulu sampai pengecer ditangani oleh pemerintah.

Direktur Eksekutif Gimni Sahat Sinaga mengatakan berdasarkan pantauan timnya, pasar migor kemasan di supermarket atau toko-toko cenderung lesu, bahkan di banyak tempat turun dari Rp52.800/2 liter menjadi Rp48.350/2 liter. Kejadian itu, kata dia, menunjukan bahwa masyarakat menengah atas pun turut membeli minyak goreng curah.

“Baiknya kebijakan harga ini dilepas saja ke mekanisme pasar. Artinya ada peminat Migor curah yng tidak seharusnya membeli yang bersubsidi ini. Migor curah bersubsidi nyelonong ke re-packer dan bisa jual Rp 21.000/liter, banyak beralih ke industri mamin makanan dan minuman, perhotelan, fast food,” ujar Sahat kepada Bisnis, Jumat (13/5/2022).

Menurut Sahat, berdasarkan pantauan pihaknya, distribusi minyak goreng curah ke berbagai pelosok daerah ini banyak hilang di perjalanan. Padahal, kata Sahat, jika melihat data Sistem Informasi Minyak Goreng Curah (Simirah), pemerintah sudah menggelontorkan 31.250 ton migor curah ke masyarakat.

Harusnya, kata dia, minyak goreng curah masuk dan tersebar ke seluruh Indonesia bahkan ke pulau-pulau yang selama ini tak pernah masyarakat kenal. Akan tetapi, apabila minyak goreng curah diangkut dengan jarak jauh menjadi hilang di jalanan berkisar 3-5 persen.

“Kalau kita ambil saja rata-rara 4 persen loss. 4 persen x Rp HAK =Rp 21.000 /ltr, maka loss itu sudah menelan biaya Rp 840/ liter, hampir sama dengan harga packing-nya,” kata dia.

Namun, Plt. Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Veri Anggrijono meminta semua pihak bersabar dalam moratorium CPO ini. Dia menegaskan pelarangan ekspor minyak sawit mentah tidak akan berlangsung lama.

“Itu konsekuensi ya [kehilangan devisa]. Kebijakan ini kan untuk rakyat juga supaya minyak goreng terjangkau,” kata Veri saat dihubungi Bisnis, Kamis (12/5/2022).

Veri bahkan mengeklaim minyak goreng curah di pasaran sudah mulai mendekati HET Rp14.000. “Ya pelarangan ini tidak akan berlama-lama. Saya baca-baca laporan Satgas Pangan sudah 50 persen di Indonesia harganya sudah sesuai HET,” kata dia.

ANOMALI

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menilai masih mahalnya minyak goreng curah merupakan anomali. Kata dia, dengan larangan ekspor berarti sekitar 12 juta ton per tahun atau 1 juta ton per bulan tersedia minyak goreng di pasar domestik.

“Ini 2 kali lipat dari kebutuhan migor domestik yang hanya 500.000 ton per bulan. Apalagi masa puncak konsumsi migor domestik, yakni Ramadan dan Lebaran telah berlalu. Seharusnya harga migor curah sudah harus turun mendekati level Rp 14000/liter,” ungkapnya, Minggu (15/5/2022).

Anomali yang demikian, lanjut dia, hanya mungkin terjadi jika penyelunduan cukup besar dengan berbagai bentuk. Pertama, penyeludupan migor dan bahan baku ke luar negeri sebagaimana yang diungkap Bea Cukai, TNI AL dalam 2 minggu terakhir.

“Kedua, terjadi konversi RBD olein menjadi produk lain. Ketiga, pengurangan produksi RBD palm oil dan RBD Palm olein. Ketiga hal tersebut faktanya melumpuhkan kebijakan larangan ekspor,” jelasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak goreng ekspor cpo larangan ekspor sawit
Editor : Amanda Kusumawardhani

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top