Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pesan Terakhir Menkeu AS Jelang Pengumuman Suku Bunga The Fed

Menurut Yellen, The Fed perlu terampil sekaligus beruntung dalam hal penetapan kebijakan suku bunga kali ini.
Menteri Keuangan perempuan pertama di Amerika Serikat Janet Yellen/ Bloomberg
Menteri Keuangan perempuan pertama di Amerika Serikat Janet Yellen/ Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan AS Janet Yellen menyatakan nada optimisme menjelang pengumuman kebijakan suku bunga The Fed, Kamis (5/5/2022) dini hari waktu Indonesia.

Dalam wawancara di sela-sela acara Wall Street Journal yang dihelat beberapa jam sebelum pengumuman atau Rabu (4/5) pagi waktu AS, Yellen meyakini The Fed akan mengambil keputusan terbaik.

"The Fed perlu menjadi terampil dan beruntung sekaligus. Namun, menurut saya dua kombinasi ini mungkin untuk dicapai," tutur Yellen, dikutip dari Bloomberg Rabu (4/5) malam.

Yellen tidak menyampaikan kisi-kisi apakah The Fed akan menaikkan suku bunga hingga 75 basis poin atau 50 basis poin sesuai prediksi para pakar. 

Yang jelas, dia meyakini pilihan mana pun akan berdampak vital terhadap upaya Negeri Paman Sam menekan laju inflasi.

"Saya juga percaya bahwa kita akan melihat pertumbuhan yang solid di tahun-tahun berikutnya," ucap Yellen.

Sebagai konteks, sejumlah ekonom sempat membahas kemungkinan AS mengalami resesi pada 2023 apabila suku bunga dinaikkan terlalu agresif dalam waktu dekat.

Atas pandangan tersebut, Yellen lantas mencoba menenangkan dan menegaskan bahwa AS akan mengambil pendekatan yang lunak dan tidak merugikan perekonomian global.

Dia juga mengingatkan bahwa meski harga-harga di kalangan konsumen telah melonjak, ekspektasi inflasi untuk jangka menengah belum begitu terpengaruh.

Sebab itu, dia yakin kalau jenis fenomena inflasi yang sedang dialami AS saat ini berbeda dari fenomena yang dihadapi negara tersebut pada era kepemimpinan eks Gubernur The Fed Paul Volcker pada era 1980an. 

Kala itu, di era Volcker AS sempat menderita resesi yang ditengarai sebagai buntut atas kelewat agresifnya pengetatan kebijakan moneter.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper