Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Semen Turun Lagi, Kebijakan DMO Batu Bara Belum Merata Hantui Produksi

Batu bara merupakan material penting bagi industri semen sebagai sumber energi di fasilitas produksi. Karena itu, tingkat harga batu bara akan mempengaruhi produktivitas industri semen.
Karyawan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengecek produksi semen di pabrik perseroan. istimewa
Karyawan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengecek produksi semen di pabrik perseroan. istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja ekspor semen kembali mencatatkan penurunan pada kuartal I/2022 karena belum meratanya alokasi harga batu bara dengan skema Domestic Market Obligation (DMO). Asosiasi Semen Indonesia mencatat ekspor sepanjang tiga bulan pertama tahun ini sebesar 2,1 juta ton, turun sekitar 25 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2021.

Ketua Umum ASI Widodo Santoso mengatakan angka ekspor tersebut terdiri atas 400.000 ton semen dan 1,8 juta ton klinker. Dia pun menyatakan kebijakan harga DMO sebesar US$90 per metrik ton belum berjalan dengan baik meski sudah diberlakukan sejak November 2021.

Pada awal bulan ini, pemerintah memperpanjang ketentuan harga DMO hingga akhir 2022 dan memperluas cakupan penerimanya untuk semua sektor industri pengguna batu bara.

"Diharapkan kuartal kedua kebijakan DMO untuk komoditas semen yang merupakan kategori 10 barang penting untuk kebutuhan pembangunan bisa tersuplai kebutuhan bahan bakar batu bara dengan lancar dan harga yang sesuai DMO," kata Widodo kepada Bisnis, Selasa (19/4/2022).

Sementara itu, konsumsi semen domestik selama kuartal I/2022 tercatat sebesar 17,12 juta ton atau naik 5,5 persen secara year-on-year (YoY). Adapun, konsumsi Maret tercatat sebesar 6,58 juta ton, naik 2,5 persen secara YoY.

Pada bulan lalu, pertumbuhan konsumsi semen tertinggi terjadi di Sulawesi sebesar 10,5 persen menjadi 0,612 juta ton, menyusul kemudian Jawa yang tumbuh 4,6 persen menjadi 3,45 juta ton, Maluku dan Papua 2,1 persen menjadi 0,23 juta ton, dan Kalimantan 2 persen menjadi 0,43 juta ton.

Adapun, wilayah yang mengalami penurunan konsumsi pada bulan lalu antara lain Sumatera -1 persen menjadi 1,55 juta ton dan Bali-Nusa Tenggara -16,3 persen menjadi 0,32 juta ton.

Adapun secara kuartalan, konsumsi di Jawa naik 3,6 persen, Kalimantan naik 5,6 persen, Sulawesi tumbuh 20,2 persen dan Maluku-Papua 8,6 persen. Di Sumatera terjadi penurunan tipis 1 persen, sedangkan di Bali dan Nusa Tenggara angka konsumsi relatif stagnan.

Setelah Lebaran Widodo memproyeksikan konsumsi semen domestik bakal kembali menggeliat seiring maraknya pembangunan infrastruktur.

"Setelah hari raya kebutuhan semen bisa meningkat karena anggaran pemerintah dan non-APBN sudah lancar ke proyek, dan situasi pandemi sudah aman sehingga kenaikan konsumsi semen bisa di atas 5 persen," jelasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Reni Lestari
Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper