Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Laba Huawei Terpacu 76 Persen Tahun Lalu di Tengah Sanksi AS

Sanksi dari Amerika Serikat ternyata tidak mampu membendung kinerja Huawei yang berhasil membukukan kenaikan laba bersih 76 persen pada tahun lalu.
Ahmad Thovan Sugandi
Ahmad Thovan Sugandi - Bisnis.com 29 Maret 2022  |  09:32 WIB
Laba Huawei Terpacu 76 Persen Tahun Lalu di Tengah Sanksi AS
Warga menggunakan smartphone berjalan melewati papan Taman 5G di markas Huawei Technologies Co. di Shenzhen, China, Rabu(22/5/2020).Bloomberg - Qilai Shen
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Huawei berhasil membukukan kenaikan laba bersih 76 persen pada tahun lalu di tengah penurunan pendapatan akibat sanksi dari Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan tahunannya, perusahaan teknologi asal China ini meraup pendapatan senilai 636,8 miliar yuan dan laba bersih 113,7 miliar yuan pada tahun lalu. Jika dirinci, pendapatan Huawei tercatat turun 29 persen dibandingkan 2020.

“Selama beberapa tahun ke belakang, tim kami sangat tertekan. Tetapi strategi kami sangat jelas dan kami akan terus berinvestasi pada talenta dan R&D [research and development,” kata Chief Financial Officer Meng Wanzhou, dikutip dari Bloomberg, Senin (28/3/2022).

Pengeluaran R&D perusahaan mencapai 142,7 miliar yuan pada 2021, mewakili 22,4 persen dari total pendapatannya. Angka ini menjadikan total pengeluaran R&D selama 10 tahun terakhir menjadi lebih dari 845 miliar yuan.

“Meski pendapatan kami turun pada 2021, kemampuan kami untuk mencetak profit dan arus kas meningkat. Kami sangat siap menghadapi ketidakpastian,” tekannya.

Berkat peningkatan profitabilitas bisnis utamanya, arus kas perusahaan dari aktivitas operasi meningkat secara signifikan pada 2021 sebesar 59,7 miliar yuan. Adapun rasio kewajibannya juga turun menjadi 57,8 persen.

Pada 2021, bisnis operator Huawei telah menghasilkan pendapatan sebesar 281,5 miliar yuan dan mengeklaim telah membantu operator di negara lain menerapkan jaringan 5G.

Hasil pengujian pihak ketiga menemukan jaringan 5G yang dibangun Huawei untuk para pelanggan di 13 negara, termasuk Swiss, Jerman, Finlandia, Belanda, Korea Selatan, dan Arab Saudi, telah memberikan pengalaman terbaik bagi para pengguna. 

Dengan bekerjasama dengan para operator dan mitra, Huawei telah menandatangani lebih dari 3.000 kontrak komersial untuk aplikasi industri 5G. Aplikasi 5G saat ini dapat dilihat telah digunakan untuk komersial skala besar di sektor-sektor seperti manufaktur, pertambangan, pabrik besi dan baja, pelabuhan, dan rumah sakit.

Berkat tren transformasi digital, bisnis perusahaan Huawei juga diklaim menghasilkan pendapatan sebesar 102,4 miliar yuan selama 2021. Pada tahun lalu, Huawei meluncurkan 11 solusi berbasis skenario untuk sektor-sektor utama seperti pemerintahan, transportasi, keuangan, energi, dan manufaktur.

Adapun bisnis konsumen Huawei telah membukukan pendapatan sebesar CN¥243,4 miliar pada 2021 dan terus mengalami pertumbuhan penjualan yang stabil pada wearables, layar pintar, true wireless earbud stereo (TWS), dan Layanan Seluler Huawei (HMS).

"Mengandalkan talenta, riset ilmiah, dan semangat inovasi, kami akan terus meningkatkan investasi untuk membentuk kembali paradigma kami bagi teori fundamental, arsitektur, dan perangkat lunak, dan membangun daya saing jangka panjang kami," ujarnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat huawei

Sumber : Bloomberg

Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top